Perbaikan Managemen Reproduksi (1): Kalender Kawin dan Penyapihan Dini

Sasak berbisik
February 26, 2009
Green Leader
February 27, 2009

Perbaikan Managemen Reproduksi (1): Kalender Kawin dan Penyapihan Dini

MENGGAPAI PULAU SEJUTA SAPI
Perbaikan Managemen Reproduksi (1): Kalender Kawin dan Penyapihan Dini

Oleh: Nurul Hilmiati

[Sasak.Org] NTB termasuk Pulau Lombok pernah menyandang gelar kehormatan sebagai “gudang ternak” yang memasok kebutuhan sapi bagi Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya. Namun dalam kurn sepuluh tahun terakhir populasi sapi di NTB khususnya Pulau Lombok terus mengalami penurunan (BPS NTB). Berbagai faktor kompleks tampaknya berkontribusi pada semakin jarangnya populasi sapi di Pulau Lombok.

Faktor ini antara lain faktor sosial yaitu masih rawannya pencurian sapi menyebabkan banyak petani/peternak enggan memelihara sapi, generasi muda yang cenderung kurang meminati profesi sebagai petani/peternak dan status sosial yang menganggap petani/peternak berada di bawah profesi yang lain dan laju pemotongan ternak untuk mensuplai kebutuhan pasar yang tidak diimbangi dengan peningkatan laju populasi; faktor biofisik yaitu semakin sempitnya lahan pertanian dan padangan rumput, kondisi Lombok yang berada di daerah bayangan hujan yang memiliki musim kemarau panjang berimplikasi pada kesulitan pakan ternak pada musim kemarau dan hijauan pakan bernutrisi rendah karena maturasi cepat yang dipacu oleh panas; faktor teknis yaitu tingginya angka kematian anak sapi, laju pertambahan berat badan yang lambat serta semakin jarangya pejantan unggul disebabkan oleh adanya larangan pemotongan betina produktif.

Namun demikian, dalam kondisi biofisik Lombok yang tidak terlalu mendukung, Sapi Bali / Sampi Jama’ terbukti telah mampu beradaptasi dengan baik dan tampak unggul dibandingkan sapi impor atau sapi hasil persilangan. Keunggulan Sapi Bali ini antara lain kemampuannya untuk beranak setiap tahun dalam kondisi lingkungan yang panas seperti di Pulau Lombok dan kekurangan pakan. Sebagai perbandingan adalah sapi hasil persilangan seperti Brangus yang seringkali mandul. Keunggulan lain adalah komposisinya karkas (daging) nya yang tinggi (55-60%) dibandingkan sapi ras besar dari Eropa dengan karkas hanya sekitar 50%, sehingga jagal lebih senang membeli sapi local.

Pengaturan waktu kawin sapi dapat menjadi alternative dalam menyiasati tingginya angka kematian anak dan lambannya pertumbuhan anak sapi. Saat ini umumnya sapi kawin alam/kawin IB sepanjang tahun, akibatnya anak sapi juga lahir pada sebaran bulan yang beragam. Penelitian yang dilakukan oleh Tanda Panjaitan (2003) menunjukkan umumnya anak sapi di Lombok lahir pada bulan Agustus-November yang merupakan puncak musim kemarau. Akibatnya saat melahirkan induk tidak mendapatkan cukup pakan yang bergizi dengan konsekuensi kualitas air susu untuk anaknyapun tidak optimal. Akibatnya anak sapi tumbuh dalam kondisi gizi buruk yang rentan dengan penyakit dan berakibat kematian serta memiliki pertumbuhan berat badan yang lamban. Hasil penelitian BPTP-NTB (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) bekerja sama dengan ACIAR (Australia Center for International Agricultural Research) di Desa Kelebuh menunjukkan bahwa dengan pengaturan musim kawin dapat menurunkan angka kematian anak sapi dari 40-50% menjadi hanya 5-10%. Suatu peningkatan yang sangat bermakna untuk keuntungan petani karena kematian satu anak sapi berarti telah menghilangkan hasil kerja petani selama satu tahun.

 

KLIK DISINI UNTUK MELIHAT TABEL DALAM UKURAN PENUH

Pengaturan perkawinan ini dapat dilakukan dengan memperhatikan masa kebuntingan sapi selama 9 bulan 10 hari sehingga dapat disesuaikan kapan sebaiknya sapi kawin/dikawinkan dan kapan sebaiknya mereka beranak. Perlu diperhatikan bahwa sapi mengalami birahi/mau kawin hanya sekali dalam 21 hari dan berdurasi hanya 2-3 hari sehinggga jangan sampai masa birahi ini lewat. Bila terlewatkan artinya petani harus menunggu lagi selama 21 hari ke depan dengan kerugian tenaga dan waktu untuk memberikan pakan. Perbedaan antara kalender kawin sapi yang ada saat ini serta kalender untuk pengaturan musim kawin dapat dilihat dibawah ini.

Dari kedua kalender tersebut perbedaan yang terlihat sangat jelas adalah ketersediaan pakan saat induk beranak. Pada kalender pertama induk beranak pada musim kering kerontang dan kekurangan pakan sementara pada kalender kedua induk beranak dengan ketersediaan pakan yang cukup untuk produksi air susu bagi anak sapi. Terlihat juga pakan masih tersedia saat anak sapi mulai disapih/dilepas dari induknya. Saat aank sapi mulai belajar makan rumput, hijauan masih tersedia sehingga anak sapi memiliki kekuatan yang cukup menghadapi musim kering selanjutnya. Sementara pada kalender pertama anak sapi lepas induk di awal musim kering dimana pakan sudah sangat jarang. Akibatnya anak sapi cenderung lemah dan rentan terhadap penyakit dan kematian.

Hal lain yang juga ditekankan oleh kalender kedua adalah pelepasan anak dari induknya sedini mungkin (minimal 3 bulan dan maksimal 6 bulan). Pelepasan dini ini bertujuan selain untuk mengejar ketersediaan pakan, juga memberikan kesempatan kepada induk untuk mempersiapkan kondisi tubuhnya menghadapi musim reproduksi selanjutnya. Diharapkan dengan mengikuti kalender ini satu ekor induk sapi bias beranak setiap tahun. Bila konsep ini diterapkan oleh semua peternak, semoga impian Pulau Lombok sebagai Pulau Sejuta Sapi dapat terwujud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *