KS Bangun Desa : KBI Bantu Pipa dan Kompor Gas
November 4, 2011
BMH Mataram Salurkan Qurban di Lokasi Bangun Desa
November 8, 2011

Pohon, Tunas dan Doa

Hazairin R. Junep

Yogyakarta (sasak.org) Berapapun pohon yang ditanam dalam progam reboisasi (re- kembali, bois – hutan) baik oleh pemerintah, korporasi, yayasan atau masyarakat dan perorangan niscaya akan terus gagal, sebab sudah terbukti sejak tahun 1970an program reboisasi masih jalan ditempat. Seribu orang menamam sejuta pohon dimusim hujan, cukup satu orang pendaki gunung ndeso, katrok membumihanguskannya dengan pongah hanya dengan membuang puntung rokoknya sembarangan., atau seorang yang mengasingkan diri atau termarjinalkan yang berjuang untuk survive dengan usaha ladang berpindahnya. Sebut saja mereka suku terasing maka tanpa niat merusak alam, perbuatannya membakar hutan adalah suatu kewajaran untuk bertahan hidup. Dia ditangkap tiap tahun dan dikurung, baginya itu lebih baik daripada berhujan panas menantang serangan babi dan monyet atas tanamaman pangannya yang memanjangkan usia setahun atau lebih lama.

Semakin banyak pohon semakin sedikit manusia, semakin banyak manusia semakin sedikit pohon. Tampaklah bahwa kerusakan di bumi ini adalah akibat ulah manusia. Mereka tak dapat menahan hasrat, berikanlah harta sebesar gunung Rinjani maka akan dimakan habis dalam waktu singkat. Kalau sudah habis mulailah mereka merambah, merampas, merampok, merusak dan mendurjanai diri dan sesamanya. Pohon adalah makhluk terdekat manusia bahkan lebih dekat dari keluarganya, karena ia akan menggunakan pohon terlebih dahulu ketimbang yang lain. Bahkan didalam khayal dan mimpipun pohonlah yang dimanfaatkan. Adapula sekelompok manusia yang berani hanya memanfaatkan tunas saja dalam ritualnya.

Kita terus me(p)ohon apa saja kepada siapa saja dan terutama kepada Tuhan. Orang Sasak tidak berani memakai yang besar tapi memilih bagian dari pohon kalau perlu yang paling kecil dan baru tumbuh. Mereka memakai Tunas dan terus menerus mengekspolitasi bagian itu untuk n(t)unas!. Begitu dekatnya kita dengan pohon tetapi kita menindas dan memusnahkannya. Manusia akan menggunakan kata tertentu untuk mengekspresikan idenya dan kata yang digunakan paling sering menandakan bahwa kata itu terkait dengan benda terdekat, tersayang dan paling berguna bagi manusia. Lihatlah berapa kata yang digunakan yang berasal dari organ yang pertama menghidupi manusia yaitu susu ibu. Kata itu adalah mama yang berarti susu. Maem, makan, mamax, mimix, maeh, dsb.

Kita tak mungkin menyelamatkan dunia ini kalau hanya menanam pohon, sebab ada makhluk yang telah menjadi satu dengan pohon itu dan saking dekatnya mereka selalu gatal untuk merusak dan menghabisi segala sesuatu yang merapat dan mengurungnya. Pertama dan terutama tanamlah pohon di dalam diri manusia. Lihatlah bagaimana mereka memohon atau berdoa, bagaimana mereka n(t)unas. Mereka memohon dan nunas disaat mereka terpuruk, dan anehnya yang membuat terpuruk adalah diri mereka sendiri. Artinya mereka memohon dan nunas ketika kehilangan sesuatu atau kekurangan sesuatu. Ketika mereka ambruk maka mereka akan berkata, sesungguhnya aku telah menzolimi diriku sendiri. Apalacur bukan hanya diri yang dizolimi tetapi generasi berikut dan berikutnya hancur luluh. Sejarah Minamata yang menyedihkan dan memalukan bagi bangsa Jepang sampai kapanpun tak dapat dihapus meskipun dunia ditipu dengan menutupinya. Kasus kasus keracunan oleh tailing pertambangan di negeri ini akan menjadi penyesalan dan derita panjang tanpa batas bagi anak cucu, sebab saat ini para bromocorah menjual diri pada cowboy. Alam akan marah, iklim makin panas dan racun menyeruak dari dasar bumi. Binatang buas berwajah tujuh itu sudah merajalela tanpa wujud, mencengkram semua penghuni bumi. Ketika pohon sudah habis dan kosa kata itu telah dihapus dari kamus besar apakah yang akan diucapkan oleh generasi kita 50- 100 tahun lagi?. Mungkin mereka merapal kata coca cola di rumah ibadah dan dijalan jalan lengang yang panas.

Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat dan hanya jiwa yang sehat yang dapat menuntun tubuh agar jadi sehat. Kita belajar mengkaji huruf demi huruf untuk memahami diri dan lingkungan, apa itu ALIF dan apa itu YA. Dijanjikan bahwa membaca satu huruf saja akan diganjar pahala, bagaimana kalau kita membaca satu surat dan satu juz atau 30 juz sekaligus?. Pahalanya begitu dahsyat bukan karena sekedar melafalkan huruf yang terjalin indah dengan bunyi syahdu tetapi memahami, mengerti dan melaksanakan isi pesan tiap kata, kalimat dan keseluruhan isi. Sebenarnya apa sih pahala itu?. Pahala adalah kebaikan, perasaan nyaman atau energi positif yang langsung kita rasakan. Sebaliknya bila kita melanggar komitmen dan melakukan hal yang tidak patut, sebagai manusia, kita berdosa. Dosa adalah keburukan, perasaan tidak nyaman atau energi negatif yang merasuki jiwa raga kita. Mengapa begitu banyak ketidakpatutan merajalela diseantero bumi ini?. Musuh besar kita adalah ketidakpatutan itu. Sumber ketidakpatutan itu adalah karena kebodohan dan hancurnya akhlak manusia. Kita telah dipapah kepada satu sisi dari kemanusiaan kita. Kita telah dicucuki hidung kita bak kerbau, kita telah dipasangi kacamata kuda. Kita dengan pongah membuang pakaian kita lalu menggantinya dengan seragam asing sementara otak kita telah dikosongkan dan hati kita dihampakan.

Lihatlah orang yang sembahyang dari penganut agama apapun mereka melakukan ritual yang meliputi jasmani dan rohani. Gerakan gerakan mereka menggetarkan semua yang bersentuhan secara fisik, gema suara, dan gerak badan berpengaruh nyata. Tapi yang tersembunyi dirasakan hanya oleh diri sendiri dan orang yang senada hatinya. Pohon pohon yang bertunas hendaknya ditanam terlebih dahulu dilahan jasamani kita. Ada kesehatan, keseimbangan, kesenangan dan kematian bagi tubuh kita. Tersedia seluas bumi terhampar. Ada kasih, harmoni, kebahagian dan suarga bagi jiwa kita. Tersedia seluas bumi dan langit. Badan ini hanya terbatas untuk bumi kecil kita. Sedangkan ruhani menempati bumi dan langit. Langit yang tiada batas itu adalah bagian dari suarga. Kita telah mengeksploitasi bumi sampai menggali ribuan meter dan kita telah terbang mengitari planet bumi sejauh jutaan kilometer. Tapi rahasia itu tak jua terungkap. Lalu kita mencari makhluk terdekat dengan kita agar tenang dan damai, kita memakan, membuat rumah, membakarnya demi kehangatan dan makan enak, tetapi kita juga memperalatnya untuk pelarian kepada YANG MAHA TINGGI, lantas kalau pohon sudah habis apakah yang akan dipanjat anak cucu kelak?.

Bahkan kita juga meniru bagaimana pohon hidup dengan menanamnya. Kita berjuang menanamkan pemahaman bahwa badan jasmani dengan kebutuhan kesehatan, keseimbangan, kesenangan dan kematian itu harus tumbuh subur agar hidup selaras dengan alam. Kita juga menanam nilai yang harus tumbuh merimba didalam lahan jiwa yaitu kasih sayang, harmoni, kebahagian dan suarga. Mari kita tanamkan segala benih kebaikan terlebih dahulu didalam badan dan jiwa manusia agar mereka siap sedia tidak hanya ikut menanam pohon dalam rangka reboisasi tetapi mereka akan memelihara dan mencintai pohon, hutan, tanah, batu, pasir, karang, udara, awan, hujan, sawah, laut, sungai dan danau oleh sebab bumi ini adalah bagian tak terpisahkan dari suarga itu. Rupanya Tuhan tidak hanya mendelegasikan bumi untuk kita jaga dan pelihara tetapi sebagian dari suargaNYA adalah jatah kita untuk membangunnya.

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *