Lagu Sasak : Berugaq Elen
March 2, 2013
Buku, Media Strategis Promosikan Daerah
March 6, 2013

Putri Nyale

PUTRI NYALE

Oleh Drs. HAPAZAH, M.Pd. *)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum,
kecuali mereka sendiri yang berusaha mengubahnya”
(Q.S.Arra’du 11).

[Sasak.Org] Langit muram taram-temaram. Bumi Sasak merana, pilu dan sendu. Hari itu tanggal tujuh belas bulan sepuluh dalam penanggalan Sasak. Empat hari sudah hujan rinai terus-menerus memburai. Masih tiga hari lagi tetumbuhan, hewan, dan rumah-rumah penduduk Bumi Sasak pasrah dibalut dingin yang terbawa angin. Biasanya setelah tanggal dua puluh, setelah prosesi bau nyale berakhir, titik-titik hujan tidak menjejakkan kakinya lagi. Ia menghilang dan akan datang menyambang tepat sebulan lagi saat bau nyale poto bertandang.

Alisha berlari melintasi titik-titik hujan dengan rasa enggan. Padahal, jarak serambi rumah dengan tempat cidomo parkir yang telah sejam menunggunya, hanya lima meter. Tapi bukan itu persoalannya. Yang menjadi persoalan adalah reformasi multidimensi yang bergelayut di sudut hatinya.

Alisha naik ke cidomo. Dia duduk di samping ayahnya yang bersedekap menahan dingin. Alisha mengibas-ngibaskan titik hujan yang menempel di gaun merahnya. Jemari tangannya lemah mengibas-ngibas lengan gaunnya kiri dan kanan. Titik air hujan yang menempel di gaun dan kerudungnya berjatuhan. Ayah Alisha yang kecipratan air kibasan tidak menghiraukan. Dia hanya mengusap kopiah bututnya yang disamperi hujan.

Cidomo bergerak perlahan menerobos hujan. Kusir cidomo tampak tak bersemangat. Dia lebih nyaman bersembunyi di balik kain selimutnya. Hanya tangan kekar yang menyembul dari balik selimut, sesekali menarik kekang kuda dan menghentakkannya. Kuda berlari kecil takut dipecut. Ia pun tampak enggan menarik gerobak yang dikemudikan juragannya. Hanya karena ia tidak bisa membantah dan menggugat, dilakukannya tugas berat itu tanpa syarat.

Alisha terguncang-guncang di dalam cidomo. Tabir plastik di kiri kanan dan sebelah depan cidomo melindunginya dari jari-jari hujan yang ingin membelai dirinya. Dia diam saja. Dalam diamnya, dia berkelana ke masa lalunya. Mata hatinya menatap jauh ke belakang. Pikirannya terbang ke masa lalunya yang telah hilang. Dulu, ketika ibunya masih hidup, Alisha selalu dididik dengan kasih sayang. Ibunya sering bilang supaya Alisha mewarisi sifat-sifat Putri Mandalika, Putri Nyale yang bijaksana.

“Isha, anakku! Saat Putri Mandalika dirundung prahara, langit dan bumi berduka. Selama tujuh hari tujuh malam hujan menyirami bumi. Saat itu, Putri Mandalika yang keelokannya terkenal dari ujung barat sampai ujung timur, menerima dua pinangan sekaligus. Pinangan dari Putra Datu Johor dan Putra Datu Bumbang. Kedua putra datu itu menginginkan Putri Mandalika menjadi istrinya. Putri Mandalika bingung, tak tahu memilih yang mana. Konsultasi dengan ayahnya tidak menghasilkan jalan keluar. Persoalan itu diserahkan ayahandanya untuk dipecahkan oleh Putri Mandalika sendiri.”

“Mengapa Putri Mandalika harus bingung, Bu. Dia kan bisa memilih salah satu dari mereka.”

“Itulah Putri Mandalika, Isha. Pikirannya tidak seperti itu. Pikirannya penuh hikmat kebijaksanaan. Dia akan memberi putusan yang mendatangkan keamanan dan kemaslahatan. Putusan yang menyelamatkan umat.”

“Kalau begitu, sikap apa yang diambil Putri Mandalika, Bu?”

“Menurut kamu, bagaimana?”

“Ah, Ibu. Alisha kan tidak sama dengan Putri Mandalika. Sikap Alisha pasti berbeda dengan sikap Putri Mandalika. Karena itu, Alisha bertanya, bagaimana sikapnya.”
Ibu Alisha mengulum senyum.

“Putri Mandalika mengirim surat kepada kedua putra datu itu. Diberitahukannya bahwa lamaran Putra Datu Johor bersamaan datangnya dengan lamaran Putra Datu Bumbang. Oleh sebab itu, Putri Mandalika meminta kedua putra datu itu menemuinya di Pantai Kuta Lombok Tengah bagian selatan untuk memperoleh jawaban lamaran yang telah dilayangkan.”

“Bagaimana sambutan kedua putra datu itu, Bu?”

“Kedua putra datu itu bingung. Ya, bingung…! Mereka bingung karena Putri Mandalika meminta mereka berdua datang menemuinya di tempat dan waktu yang sama. Namun, perasaan itu segera mereka simpan dalam hati. Putra Datu Johor menyatakan bersedia memenuhi permintaan Putri Mandalika. Tanpa memberi tahu Putri Mandalika, dia akan datang dengan prajurit pengiring bersenjata lengkap. Putra Datu Bumbang pun akan hadir diiringi oleh prajurit bersenjata lengkap pula. “
“Waduh… seru, Bu. Alisha penasaran nih…! Bagaimana selanjutnya, Bu? Apa yang terjadi?”

“Setelah kedua putra datu itu, bersama segenap pasukan bersenjatanya, sampai di tempat yang telah ditentukan, Putri Mandalika yang berdiri di atas batu besar di pinggir laut berpidato. Dia mengatakan bahwa dia tidak menolak sekaligus tidak menerima kedua lamaran putra mahkota itu. Jika dia akan menerima lamaran salah satu putra datu itu, pasti yang lain akan kecewa. Kekecewaan akan melahirkan perasaan dendam. Dan dendam akan melahirkan peperangan. Jika terjadi peperangan, prajurit dan rakyat kecillah yang akan menjadi korban. Demi menghindari terjadinya peperangan, dia lebih baik mengorbankan diri untuk kemaslahatan semua rakyat. Dia berpesan kepada semua yang hadir agar datang ke tempat itu setiap tanggal dua puluh bulan sepuluh setiap tahun. Dia akan muncul dan muncul untuk semua rakyat, semua umat. Selesai menyampaikan orasinya, Putri Mandalika menceburkan diri ke laut. Kedua putra datu beserta segenap pengiringnya turun ke laut. Tapi Putri Mandalika tidak ditemukan. Putri Mandalika menghilang. Yang mereka temukan hanyalah sejenis cacing laut yang bergumpal-gumpal, yang mengeluarkan nyale.

Alisha menyeka matanya. Cerita mendiang ibunya mengisi perjalanannya. Dia merasa terhibur. Tetapi, manakala dia ingat maksud kedatangannya ke tempat itu, hatinya kembali tersaput kabut. Cidomo terus beringsut. Hujan terus menabuh kegalauan hati Alisha.

“Sebentar lagi kita sampai,” kata Ayah Alisha pelan dan berat. “Sekitar satu kilometer.”

Kusir cidomo masih saja berdiam diri. Dari jarak sekilometer samar-samar sudah terdengar bunyi tetabuhan gendang beleq menyayat-nyayat. Instrumentalia Gelung Prade dari pereret anak buah skahe Padewaye masih mampu menembus udara yang basah. Hari rebah dalam pelukan musik beraroma daerah. Lamat tapi pasti, syair dalam lagu menyusup ke relung-relung hati mencari pemaknaan sejati.

Gelung prade gonjer sutre menah tandur
Penuk dade ime nae emas selake
Begonjeran beririkan
Raden Ayu atas singe beperaje

Sabuk megenditan

Patut jeneng ime nae bepayasan
Mule jati sak teparan pemetek dese
Begonjeran beririkan
Nunggang singe jejulukan Sekardiyu

Cidomo berhenti di depan rumah Tuan Guru Iman. Lumayan, tiga belas kilometer cidomo berlari mengalahkan hujan yang tak terlawan.

Alisha dan ayahnya turun. Ayah Alisha langsung bergabung dengan penonton yang sedang menikmati tetabuhan. Ayah Alisha berdiri di belakang orang-orang yang berhimpitan menyaksikan gendang beleq mendendangkan lagu penuh harapan. Matanya berusaha menyibak kepala orang-orang yang berjengukan. Dia ingin menyaksikan Farhan, anak sunatan, diusung di atas singa buatan. Farhan digoyang ke kiri dan ke kanan, dinaikturunkan. Anak sunatan yang mengenakan pakaian datu tempo dulu itu gagah rupawan menoleh ke kiri dan ke kanan menikmati instrumentalia pereret yang mengasyikkan.

Sesekali orang-orang yang penuh sesak di bawah tenda begawe itu bersorak-sorai. Soraknya riuh rendah manakala anak sunatan yang diayun ke atas dan ke bawah, lalu ke samping nyengir mencium ketiak skahe yang perengus.

Alisha tidak tertarik melihat tontonan itu. Begitu juga terhadap acara begawe itu. Dia tetap dingin. Sedingin suhu udara di hari itu. Dia menempelkan badannya di punggung orang-orang yang menonton. Dia hanya berlindung dari deraan hujan yang tidak berkesudahan. Rada-rada susah dia menjaga diri dari terpaan hujan yang jatuh dari sisi tenda. Sudah diketahui semua, bagian tenda yang lekuk akan menampung air hujan. Bila penuh dan angin pun datang menggoyang, air akan jatuh membasahi orang-orang yang berdiri di sisi bawah tenda. Ketika itu, mereka berteriak dan berusaha maju mendesak orang-orang yang di depannya.

Alisha kesal. Sebelum berangkat dia sudah mengutarakan keengganannya ikut begawe ke tempat itu. Tapi ayahnya memaksa karena Tuan Guru Iman telah banyak menolong umat.

“Kamu harus ikut. Tuan Guru Iman terlalu baik kepada kita, juga kepada jemaah lainnya. Coba ingat. Modal usaha menjual ketak yang selama ini kamu nikmati sebagai biaya hidup, biaya sekolah adalah dari Beliau. Pada orang-orang yang punya hajat aqiqah, Beliau tampil jadi juru potong hewan. Padahal, Beliau kan Tuan Guru. Koper pakaian TKI atau para jemaah haji haruslah Beliau yang mengisinya pada kesempatan pertama. Beliau melakukannya dengan suka hati. Kalau ada yang meninggal, Beliau orang pertama datang ke rumah duka walau tanpa diundang. Dan yang paling utama, kita mengenal Tuhan yang patut disembah adalah karena keikhlasannya memberi pengajian.”

“Ayah tahu, Alisha tidak suka begawe. Kenapa Alisha diajak?”

“Ayah ingin menunjukkan rasa hormat dan bakti kita sebagai murid. Kamu pun harus menghormati orang-orang berilmu seperti Tuan Guru itu.”

“Dengan cara begitu?”

“Di antaranya, begitu. Di samping itu, kita pergi untuk bersilaturrahmi. Menurut pengajian Beliau, silaturrahmi dapat menambah rezeki, memperpanjang umur, dan menolak balak.”

“Kalau begitu, kenapa sekarang usaha Ayah bangkrut. Bebalek penampung anyaman ketak Ayah dilalap api. Kenapa?”

“Itu rahasia Tuhan. Mungkin juga karena ayah kurang silaturrahmi. Sekarang ayah akan menyambung kembali tali silaturrahmi itu.”

Alisha tidak mau berdebat lebih panjang dengan ayahnya. Tak ada artinya. Akhirnya, dengan terpaksa dia bersedia menemani ayahnya menghadiri begawe di rumah Tuan Guru Iman. Di sela rasa terpaksa itu, sebenarnya dia pun tidak sampai hati melihat ayahnya pergi sendiri, apalagi membawa barang yang kurang pas dibawa laki-laki. Pisang, renggi, ederan, opak-opak dalam baskom terbungkus taplak meja merupakan bawaan yang lumrah dibawa kaum bini.

Alisha dan ayahnya menghambur menyiah hujan yang belum surut. Mereka beranjak ke berugak yang ada di samping rumah Tuan Guru Iman. Mereka tidak ke bawah tenda tempat tamu-tamu lain dijamu sesajian.

“Aei… Amaq Misnah. Baru datang?” sambut Tuan Guru Iman mendahului batuk kronisnya. Badannya kelihatan kerempeng digerogoti penyakit menahun itu. “Mari duduk di sini….”

“Maaf, Tuan Guru. Deweq tidak ke tenda penerimaan tamu. Deweq ke berugak sini saja. Deweq tidak mau jadi tamu.”

“O… ya. Ndak apa-apa. Di sini saja.” Kembali dia batuk-batuk. Sebentar dia memperhatikan Alisha dan tersenyum mempertontonkan giginya yang ompong. Tuan Guru Iman memang sudah berusia. Umurnya kira-kira 70 tahun. Farhan adalah anaknya yang terkecil, baru berumur empat tahun dari istrinya yang kedelapan. Tuan Guru Iman adalah tuan guru yang paling sepuh yang masih hidup di kota Praya.

Tuan Guru Iman sebentar-sebentar menutup mulutnya menahan batuk. Di sela-sela batuk, dia memperhatikan Amaq Misnah, saat yang lain mengerling Alisha. Tuan Guru Iman merasa sehat dan baru berumur seperempat abad.

“Cantik sekali anakmu Amaq Misnah. Kamu memang muridku yang baik. Dulu…, delapan belas tahun yang lalu, kamu datang menyerahkan saudara perempuanmu kepadaku. Sekarang, kamu datang untuk menyerahkan anak gadismu. Aku ingin mengikuti sunah nabi. Aku ingin menjadikan anak gadismu istriku yang kesembilan.”

Amaq Misnah melirik ke Alisha. Dilihatnya muka Alisha memerah dadu.

“Ya, Tuan Guru. Deweq bermaksud untuk menyerahkannya.”

“Bagus-bagus.” Wajah Tuan Guru Iman merona. Dia kembali terbungkuk melepas batuk yang mengganggu.

“Maaf Tuan Guru. Alisha, gadis ini, deweq serahkan kepada Tuan Guru karena Tuan Guru adalah ayah kandungnya. Alisha adalah anak saudara perempuan deweq yang dulu Tuan Guru nikahi.”

Alisha kaget setengah mati. Denyut jantungnya serasa mau berhenti. Matanya terbelalak. Matanya beradu dengan mata Tuan Guru Iman yang hampir melompat berhamburan.

“Astagfirullah… Aku bersalah… Aku khilaf..!” Tuan Guru Iman menekan-nekan dadanya yang tipis. Batuknya beruntun jatuh di lantai berugak yang amis.
Alisha tidak mempercayai pernyataan ayahnya, yang baru pertama kali itu didengarnya.

“Benarkah yang Ayah ucapkan itu?” Alisha mengguncang-guncang lutut lelaki yang selama ini dikira ayah kandungnya.

“Benar, anakku. Tuan Guru Iman adalah ayah kandungmu. Hari ini ayah serahkan kamu agar kamu bisa mewujudkan harapan ibumu.”

Air mata Alisha mengucur deras menandingi ujan nyale di siang itu. Punggungnya berguncang-guncang. Tangannya sibuk menyeka air hangat yang tak terbendung itu.

“Tidak. Alisha tidak mau pisah dengan Ayah. Alisha tidak mau tinggal di sini. Alisha tidak terima. Tidak …!”

Pekik Alisha membumbung tinggi. Alisha tidak sadarkan diri. Orang-orang berdatangan. Semua panik. Seseorang yang dianggap ‘pintar’ segera mengambil air lalu menjampi-jampi. Air dipercikkan di muka Alisha berkali-kali. Alisha tetap tidak sadarkan diri.

Satu jam kemudian, Alisha siuman. Matanya membara semerah saga. Mulutnya terkatup. Saat ditanya ini-itu, dia tak menyahut.

Atas persetujuan Tuan Guru Iman, Alisha dibawa pulang kembali ke kampung. Amaq Misnah pulang dengan ‘barang bawaan’ secukupnya.

Di rumah bedek yang berjasa memberi kesempatan kepada Alisha tumbuh dan berkembang itu, Alisha mengurung diri. Selama dua hari tiga malam, Alisha tidak mau diganggu. Dia keluar kamar hanya untuk urusan ‘biologis’. Selama dalam ‘kurungan’ itu, dia melihat landscape layar kehidupan di sekitarnya. Layarnya penuh dengan perbuatan nista. Baik dengan dalih agama ataupun kebahagiaan hidup bersama di dunia. Alisha melihat sikap diskriminasi terhadap anak laki-laki dan perempuan, penindasan terhadap kaum ibu yang tidak terperikan; orang-orang kaya yang menghambur-hamburkan harta untuk sembilan jenis begawe yang membutuhkan biaya tak terhitungkan, orang-orang hartawan yang kurang memperhatikan pendidikan putra putrinya. Juga Tuan Guru yang menggadaikan kehormatan, menjadi suruhan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan. Terakhir, laki-laki uzur yang (beriman yang seharusnya jadi anutan) menyalakan api cinta balig daka. Semuanya terlihat nyata. Semua datang menyerbu dan merebut simpati hati Alisha. Semua berteriak, katakan yang benar itu meskipun pahit.

Alisha mendesah. Ia menarik napas panjang lalu perlahan melepaskan udara yang memenuhi dadanya. Dadanya terasa panas. Matanya merah. Beberapa kali dia menguap. Semalam ia kurang tidur. Ia menemani Mendiang Ibunya yang datang menghibur. Nasihat-nasihatnya menyejukkan hati dan menjernihkan pikirannya. Alisha tergagap. Dia sadar bahwa ia telah terlempar ke dunia masa kini yang mesti dijalani dan dimaknai.

Tepat pada tanggal dua puluh bulan sepuluh penanggalan Sasak, pada hari ulang tahunnya yang ketujuh belas, Alisha keluar rumah. Hari itu cuaca alam Sasak cukup bersahabat. Sebagian besar masyarakat Sasak tak akan melihat. Mereka masih capai karena semalam begadang menangkap nyale di pantai selatan.

Alisha melangkah mantap. Ayunan langkahnya ringan dan panjang.

“Alisha mau ke mana?” tanya ayah Alisha cemas.

Alisha berhenti melangkah. Tanpa berpaling, Alisha menjawab dengan suara lantang. “Alisha harus berjuang menegakkan kebenaran. Alisha harus tunaikan wasiat Bunda. Alisha harus seperti Putri Mandalika, berkorban demi umat. Alisha harus menggugat!”

Alisha memberi tekanan kuat saat mengucap kata ‘menggugat’. Dia sengaja memilih diksi itu. Dia sadar betul dengan siapa dia berbicara. Dia tahu ayahnya tidak akan paham jika dia memilih kata ‘reformasi’. Apalagi mengerti sasaran tembak reformasi. Ayahnya tidak akan tahu bahwa bidikan pertama aksi reformasi yang ia lancarkan adalah pola pikir pribadi yang harus dibenahi. Semua dimulai dari diri sendiri dan saat ini.

“Alisha akan menggugat…?”

Pertanyaan terakhir itu menyentuh sisi lembut hati Alisha, hati perempuan yang penuh cinta dan kasih sayang yang mesti dibagi-bagikan kepada sesama. Dia memutar badan. Sejenak dia menjenguk wajah ayahnya yang menyimpan berbagai penderitaan yang tidak terbahasakan. Dengan tulus dia menyuguhkan senyum manis yang menyejukkan.

“Tenang, Yah! Alisha tidak akan melakukan tindakan anarkhistis. Alisha tidak akan menyuarakan kebenaran dengan kekerasan, apalagi merusak lingkungan. Alisha tidak akan mendemonstrasikan cara-cara yang merugikan. Percayalah!

Alisha berpaling. Setelah itu, Alisha mengukir langkah tegap satu-satu. Bayangannya hilang ditelan kelokan jalan tua yang bau dan berbatu.

Tidak memakan waktu seminggu, sebelum bau nyale poto dilaksanakan, perkumpulan Dedare Sasak atas nama Putri Nyale terbentuk. Ketua perkumpulan para gadis itu adalah Alisha binti Tuan Guru Iman. Sekretariatnya, Berugak Elen di halaman ayah kandung Alisha. Program pertamanya, menyiapkan drama kreasi Putri Mandalika yang akan dipentaskan di pantai selatan pada saat event bau nyale poto terselenggara. Drama yang akan menyuarakan isi hati gadis Sasak. Drama reformasi yang sarat isi penuh gizi.

Saat ini, tiap hari Alisha bersama teman-temannya (di antaranya ada beberapa taruna yang dilibatkan karena tuntutan skenario) sibuk berlatih akting. Mereka bekerja keras tak mengenal lelah. Mereka memacu diri agar pementasan drama Putri Mandalika sukses dan berhasil merebut hati, menarik simpati masyarakat Sasak yang merindukan perubahan.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Perkumpulan Dedare Sasak tidak dapat mementaskan drama kreasi pada hari yang selama ini dinantikan. Pemda lewat Kadis Pariwisata tidak mengizinkan adanya pementasan. Pemda takut adanya gangguan keamanan terbit terpicu keramaian tanpa pengawasan polisi. Dedare Sasak tak kuat menanggung haru. Semua bersedih. Tak terkecuali Alisha. Tapi, di tengah lautan kesedihan, Alisha berhasil melukis senyum teramat manis, yang hampir tak pernah diukirnya selama ini. Karena dari palung hatinya, berpendar semburat cahaya. Cahaya yang menerangi bumi Sasak yang tengah menggeliat menanti perubahan; suatu saat nanti.

Amaq Misnah seperti orang yang baru siuman dari pingsan yang panjang. Dia baru tahu perjuangan Alisha. Hatinya lega. Dadanya penuh bunga. Lidahnya senantiasa bergetar mengucap syukur kepada Allah Swt. Doanya senantiasa terkirim dan tercurah ke pangkuan anaknya. Ucapan syukurnya tiada putus, zikirnya tiada henti karena Putri Nyale yang bijaksana telah terlahir kembali menjejak bumi.

Kamus Kecil :

balig daka : balig di usia lanjut
bau nyale : event menangkap nyale
bau nyale poto : event menangkap nyale akhir (kedua)
bebalek : bangunan satu ruang yang berdinding bedek
bedek : pagar, anyaman bambu
begawe : pesta
berugak : balai bertiang empat/enam didirikan di samping/
depan rumah sebagai tempat duduk-duduk
berugak elen : berugak yang sejuk ditiup angin sepoi-poi
cidomo : alat transportasi khas Lombok, bendi, cikar/dokar
datu : raja
deweq : saya (ragam halus)
dedare Sasak : gadis Sasak
dipecut : dicemeti
Gelung Prade : lagu daerah khas Lombok Tengah
gendang belek : kesenian tradional Lombok
ketak : anyaman kerajinan tangan dari pohon ketak
nyale : 1.sejenis cacing laut 2.nyala, cahaya
Padewaye : nama grup gendang belek
pereret : seruling
Putri Mandalika : nama Putri Legenda, Cerita rakyat Lombok
Putri Nyale : nama lain Putri Mandalika
renggi, ederan, opak-opak : nama beberapa penganan tradisional Lombok
skahe : pemimpin grup kesenian tradional Lombok
ujan nyale : hujan terus-menerus (biasanya tujuh hari) musim pen-
nangkapan nyale

Praya, 21 April 2008

*) Guru Bahasa dan Sastra Indonesia, SMA Negeri 1 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat

1 Comment

  1. abu muhammad says:

    bagaimana mungkin putri mandalika yg mati dgn bunuh diri itu dianggap sebagai orang yg bijaksana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *