Sasak Sisi Lain
November 4, 2008
Dunia Daun Kelor
November 6, 2008

Republik Anak Ranting Nusantara

Assalamualaikum WR WB

Dahulu Negara Republik Indonesia di usung beberapa orang seperti Soekarno Hatta Sayahrir Agus Salim Natsir dan lain lain. Deretan nama nama itu tak ada koma karena mereka satu jiwa. Ya jiwa mereka menyatu  dengan derita dan impian rakyat jelata. Mereka boleh tak punya uang atau pakaian apalagi kurang makan. Tetapi mereka tak pernah kekurangan akal dan impian mereka tak pernah hilang bahkan sampai bertahun tahun setelah mereka wafat. Kemudian Soeharto menyangganya dengan segala kekuatan demi tegaknya harkat dan martabat anak bangsanya.

Negara Republik Indonesia yang kaya SDM dan SDA, adalah suatu tempat yang langka dengan kekayaan besar seperti itu. Ketika tidak banyak orang melek huruf, martabat bangsa ini luar biasa tinggi di hadapan bangsa lain di dunia. Karena pemimpinnya tahu siapa yang berdiri dibelakang mereka yaitu rakyat jelata yang siap mati membela mereka dan tanah tumpah darah Indonesia.

Sekarang 80% rakyat telah mengenyam pendidikan dasar sekurangnya SD, itu adalah malapetaka besar, sumber dari sumber segala malapetaka yang berkepanjangan ini. Mereka yang berpendidikan dasar, menengah dan tinggi tidak memperlihatkan perbedaan perilaku. Secara Kultural  bangsa ini dilanda khaos, dimulai dengan eforia kebebasan yang melampaui batas. Secara politik lebih kacau balau lagi karena lompatan besar dari masyarakat semi tertutup langsung dibuka terlalu lebar dan bahkan segala pintu telah dijebol sedemikian rupa sehingga siapa saja masuk tanpa permisi.

Riwayat Negara yang Bebas dan Aktif telah berakhir bersama tumbangnya martabat manusia yang menghuni tanah seluas 2 juta kilometer persegi dan jangan lupa masih ada 3 juta seratus ribu kilometer persegi lautan yang membentang tak terurus. Mulailah tangan tangan raksasa asing mencabik cabik tanah ini, lewat segala cara dan meliputi semua lini kehidupan. Setelah tumbang harkat dan martabatnya, penyakit penyakit paling kuno yang hanya bisa menulari manusia terbelakang muncul lagi. Tiba tiba flu burung memusnahkan ayam kampung kita dan secepat kilat kita harus mengimpor bangkai dari negara entah berantah. Kita mengimpor peyakit dan sekaligus obatnya.

Tiap senin dan kamis informasi berubah, kebijakan diganti. Tiba tiba makananpun menghilang, sektor pertanian yang menghidupi rakyat jelata terbengkalai karena kita ternyata telah menjadi pak turut. Bangsa besar telah menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya, menuruti kehendak jahannam yang menunggangi segala hajat hidup rakyat.

Setelah kesehatan dan ekonomi ditumbangkan tinggallah politik yang memang rapuh berdiri doyong, hanya satu gertakan saja robohlah perpolitikan kita. Tiba tiba kuku kuku neoliberalis telah mencabik cabik wajah pendidikan kita. Para pemimpin negeri telah menjual masa depan anak cucunya sendiri. Mengikuti tawar menawar pasar perbudakan jangka panjang. Guru telah lenyap dan diganti para pekerja dibidang pendidikan. Pendidikan juga telah sirna diganti dengan usaha pelatihan di sekolah. Dan Sekolahan telah disulap sekedar jadi tempat mengasah kecakapan anak menjawab teka teki atau puzzle yang bernama UN (ujian nasioanal).

Bagi rakyat jelata pendidikan adalah harapan satu satunya untuk menolong mengukir watak anak bangsa agar menjadi manusia berkarakter dan berbudi luhur. Sekarang tak ada ukir mengukir, yang ada adalah mencelupnya dengan seragam yang sama. Melalui kolam kolam pencelupan merah hitam seorang anak manusia ditentukan oleh celupan dua tiga hari itu. Setelah selesai akan ada barisan panjang dan tingal dipilih mana yang terbaik untuk dikirim ke pabrik pabrik perbudakan masa depan.

Kapitalisme dan neoliberalisme telah memporak porandakan peradaban anak bangsa, tiba tiba hilang sudah rasa hormat satu sama lain. Pada saat lengah berapa ribu generasi muda yang cerdas diambil dengan cuma cuma. Yang tidak memenuhi standar tetap tinggal di negeri sendiri. Kelak jahannam tidak perlu  menggunakan tangannya lagi karena tangan anak bangsa yang telah direkrut bertahun tahun telah menjadi pelaksana harian dalam proyek pemusnahan atas saudarnya sendiri.

Negara dikelola oleh wayang dengan dalang asing, politik diarahkan menuju win win solution, engkau dapat aku dapat, memang rakyat juga dapat tetapi hanya dapat penderitaan. Semua telah dikerdilkan kepada tujuan sempit untuk menjaga kepentingan bisnis negara negara yang memberi renten kemudian mencekik sampai pingsan.

Sekarang kita sedang pingsan, cepatlah sadar dan bertindak dan mulailah satu hal kecil saja. Kembalikan hak guru sebagai pengajar dan sekaligus penguji bagi muridnya. Murid belajar dengan kesenangan bermain anak anak karena pendidikan adalah sebuah proses seumur hidup. Tidak boleh ada penilaian hanya dua tiga hari dengan menapikan kelebihan anak didik diberbagai bidang lain. UN hendaknya digunakan sebagai survey kemajuan secara umum dan tidak menentukan lulus tidak lulusnya seorang murid.

Pendidikan telah berubah menjadi ladang pertempuran dan pengejaran terorisme kelas berat. Sampai satuan khusus Brigade Mobil densus 88 harus diturunkan. Betapa pemimpin bangsa ini telah begitu kebelinger, mabuk berat sehingga sekolahpun dimasukkan dalam daftar sarang teroris…

Pendidikan telah dikerucutkan dan dipres menjadi sekedar ujian nasional yang sia sia, sekolahan telah berubah menjadi medan perang melawan teroris. Negara telah berubah menjadi ranting daripada cabang Negara kaya dan besar pemberi renten dan saketika berubah menjadi Republik Anak Ranting Nusantara yang siap menyediakan 250 juta budak masa depan.

Wallahualam bissawab

Demikian dan maaf

Yang ikhlas
Hazairin R JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *