Inaq Sani dan Impian Naik Pesawat
October 21, 2011
KS Bangun Desa : KBI Bantu Pipa dan Kompor Gas
November 4, 2011

Rukun Yang Anarkhis

Hazairin R. Junep

Magelang (www.sasak.org) Pada suatu saat ketika mengaji di berugax reot kami diharuskan menghafal berbagai bagai rukun oleh ustad kami yang malang. Ustad kami malang sekali karena ia tidak digaji dan tidak mendapat penghargaan sepantasnya dari warga dasan. Ia mengaji (kuliah) di ma’had dan tak seorangpun membantunya dengan beasiswa. Kami harus antre mengganti giliran mengecek bacaan dengan buku Alif Ba Ta yang sejenis dengan buku Iqra yang ada sekarang. Bedanya kami harus menghafal sendiri dan tertatih membaca rangkaian huruf. Kami hanya membaca tanpa memahami, terbalik dengan sekolahan, kami membaca yang kami mengerti tetapi kebanyakan yang dibaca dan diserahkan sepenuhnya oleh guru sehingga meskipun kalimatnya bisa dimengerti tapi tetap tak faham orang sedang omong apa.
Yang mula mula kami harus hafal adalah rukun wudu’. Lalu rukun Islam dan Rukun Iman. Selanjutnya Rukun Shalat dan Puasa. Sayangnya sampai tamat mengaji dan sekolah, belum pernah kami diarahkan untuk menghafal atau memahami apa itu Rukun Tetangga. Mungkin ustad kami percaya begitu saja bahwa kami pastilah menguasai masalah RT itu. Celakanya adalah bahwa gara gara semua ustad dan guru beramai ramai take it for granted , mempercayai, bahwa kami bisa jadi bagian RT yang rukun, tertib sesuai dengan kalimat penutup dari rukun wudu’ itu. Si julu te pejulux si mudi te pemudix iye sino rukun wudu’si wajip gen te taox, si wajib gen te gawex!. Yang depan didahulukan yang dibelakang diakhirkan, demikian itu adalah rukun wudu’ yang wajib diketahui dan yang wajibdilaksanakan!.

Setelah dewasa adalagi yang wajib diketahui dan dihafalkan diam diam karena kalau pakai teriak keras pasti orang akan terpingkal pingkal sehari semalam, yaitu Rukun NIKAH!. Mungkin karena menghafalnya diam diam dan berniatnya diam diam itu maka banyaklah orang bercerai ditengah atau diawal perjalanan dan yang menyedihkan adapula yang bercerai persis sebelum mati. Kalau sebulan gumi paer mencetak 30 sampai 40 janda alangkah malangnya semua rukun rukun yang kita hafal sampai dada membusung saking bangganya mengahfal lebih baik, lebih cepat, lebih tegas dan lebih indah!. Kalau manusianya malang, itu adalah buah dari pilihan diri atau memang ada yang mengatur agar anak bangsa kita ini terus jadi orang MALANG meskipun ber KTP gumi paer. Bagaimana tidak pilu hati kita, sambil mengingat ingat semua rukun yang kita pelajari susah payah diwaktu kecil dengan begitu saja dilanggar dan dilindas oleh orang orang yang kita seharusnya hormati dan angkat tinggi baik karena ilmu atau jabatannya. Berantakan sudah yang namanya HAJI alias turis yang serta merta dan dramatis berganti haluan hidupnya. Seorang haji menerima raskin dalam keadaan badan sehat, akal sehat dan beranak pinak pula. Seorang haji lain tak sanggup menyekolahkan anaknya sebab satu satunya keahliannya adalah bertanam disawah sedangkan sawahnya telah dilego agar jadi turis berjubah.

Ketertiban adalah harga mati dari sebuah rukun, kalau kita hendak berwudu’ tanpa niat atau sikap sempurna maka tidak syah wudu’ itu. Kalau kita hendak menikah dan tidak ada saksi maka tidak syah juga pernikahan itu. Kalau kita hendak shalat tanpa Takbiratulihram maka tidak syah shalat kita. Mengapa orang bisa berlenggang kangkung jadi turis ke Makkah padahal mereka belum lempeng bersyahadat, belum tegak shalatnya, belum jalan puasanya dan belum sanggup berzakat, berinfak dan bersadakah?. Bagaimana rukun yang pertama dilangkahi hanya untuk mengambil rukun terakhir?. Betapa banyaknya manusia bebal di gumi paer ini. Untuk mendelete diri dari daftar manusia bebal seolah dengan lewat prosesi turis berjubah dan topi putih jadilah mereka seorang toean, master, lord atau rahadian!. Betapa banyak kita dengar ada toean yang bakhil, jahat, mencuri dan berkhianat. Dan yang paling jahil adalah bahwa 90% orang Sasak memilih jadi turis berjubah daripada belajar. Sehingga dengan segala upaya harus bisa jadi haji, meskipun anak sengsara dan dapat jatah raskin diakhir perjalanannya. Betapa malunya generasi muda mendapati bahwa IPM kita ada di bawah dasar samudera!.

Penyakit tidak tertib itu merambah kesegala lini kehidupan, orang mau jadi polisi, pns atau politisi dan kepala daerah tidak perlu melewati rukun yang paling utama yaitu keteladanan. Dengan menyogok atau berkorupsi, berkolusi dan bernepotis semua bisa diperoleh. Pejabat yang seharusnya duduk adalah yang berkompeten sebagai rukun pertama yang harus dilewati dalam penyaringan tetapi siapa saja boleh jadi pejabat. Maka porak porandalah sistem yang dibangun beratus tahun oleh para akhli disegala bidang dengan segala rukun rukunnya.

Di lapangan berjejer orang berdemo menyampaikan manifesto, menolak atau mendukung sesuatu. Banyaklah dari mereka tidak mengerti apa apa tetapi satu hal adalah amplop berisi 20-50 ribu rupiah telah menghapus rukun rukun berdemo yang seharusnya dipegang oleh aktivis. Sekolahan kita penuh oleh guru yang mengajar untuk sekedar membuat anak mampu berkomplot menjawab ujian nasional yang dirancang bersama oleh pemerintah, politisi dan pendidik sedemikian rupa agar tidak terbongkar rahasia busuk mereka memberikan jawaban ujian. Sudah diajar “ini ibu budi” agar jadi pak turut, maka diperlukan jalan mulus untuk keluar dari bangku sekolahan dengan nilai yang sedapat mungkin mencerminkan keberhasilan kita dalam mengajar anak!. Para pelajar itu sampai S3 akan sangat pandai membeo dan menjadi misionaris bagi pemikiran entah berantah yang dipungut disana sini agar tampak lebih canggih dari orang sekelilingnya. Kalau sempat merantau itu lebih baik karena sesudah pulang kampung akan bedalah penampilan dan cara berpikir. Kalau tidak bisa merantau cukup sulap saja diri jadi turis dan pulang dengan kopiah khusus. Yang satu mengangungkan ijazah yang lain menyembah kopiah putih.

Rukun segala macam rukun telah ditukar dengan kepentingan sesaat dan tergadailah kita dalam sistem rentenir baik secara psichologis mauapun material. Kita telah menjadi bangsa dengan hutang besar tapa pemasukan. Kalau satu orang mempunyai hutang jutaan tanpa ia sadari maka tentu saja yang salah adalah pemimpin yang menggandaikan kita dan juga kita yang stupidnya minta ampun.
Kalau pertanian kita terbengkalai dan ada kekuarang pangan maka yang salah adalah kita yang mengabaikan rukun rukun pertanian sebagai negara agraris. Kita menanam Mc Donald, Pizza Hut, Mall, Cinema, TV dan bukan memperbaiki saluran irigasi, memuliakn tanaman dan membenihkan ikan. Kita melakukan bisnis tipu dengan MLM dan mengskploitasi sesama dengan mengambil untung dan membunuh yang datang belakangan. Kita sudah dicekoki bahwa rukun dagang yang seharusnya melakukan perkulakan, sortir barang, memasarkan dan membeli barang lagi dihapus dan diganti dengan cara tidak usah kerja, duduk duduk saja, jadi bos dan meraup untung. Itu bisnis momot meco seolah diadopsi juga oleh cowboy dan kita merasa sudah sesuai dengan rukun dagang yang kita anut dan lebih parah lagi itu dianggap sebagai ajaran nenak moyang.

Kalau rukun rukun yang dihafal sejak kecil tak sanggup diejawantahkan sebagai wujud kesholehan sosial atau konsistensi dalam berpegang pada aturan maka RUKUN TETANGGA dimana kita tinggalpun jauh daripada sifat sifat rukun. Berapa banyak anggota yang tidak seharusnya berumah tangga, berapa banyak orang yang seharusnya tidak boleh menjalankan suatu pekerjaan dan betapa banyaknya janda dan anak anak tak terurus dengan baik didalam lingkungan dan didepan mata kita sendiri. SEKUMPULAN RT. ITU MENUMPUK JADI KOTA, KANUPATEN DAN PROVINSI. Kepala daerah kita pilih bukan berdasarkan keakhlian tapi karena kedekatan emosional. Pegawai yang seharusnya melayani rakyat terbalik minta dilayani rakyat. Para ulama yang seharusnya berkorban jiwa dan raga dengan tidak meninggalkan mimbar, dengan gagah perkasa ingin dilihat kepiawaiannya sebagai politikus atau raja kecil. Umaro atau pejabat ketularan ingin dilihat kefasihannya melantunkan ayat yang sebenarnya tidak difahami dan tidak sanggup dijalankan. Penyakit itu merambah sampai dunia maya, dimana mana masing masing tidak ingin menekuni bidangnya sendiri agar keren. Agama dibahas dicampur dengan ideology marxisme, leninisme, stalinisem, nazisme dsb. Rukun apa saja tidak lagi penting pokoknya keren. Kalau sudah mentok kemana mana gagal, ada juga yang mengaku sebagai raja dan nabi entah punya rakyat entah punya ummat pokoknya ngaku saja.

Begitu canggihnya kapitalisme merambah jiwa kita yang belum pernah mengenal akar diri dengan seksama. Sosialisme dengan kolektivisme sangat cocok dengan kita tetapi sosialime tanpa kapitalisme niscaya tidak sanggup berjalan. Tapi kita membunuh sosialisme seketika dan bermimpi jadi kapitalis ala cowboy. Kita campakkan adatgame, yang telah menuntun kita menjadi bangsa yang teruji sejarah meskipun pilu membaca babak demi babak tapi inilah hasilnya bahwa kita eksis sebagai bangsa dengan segala kekuarangan dan kelebihan kita. Sekarang kita lepaskan semuanya dan bersimpuh dikaki para bromocorah dunia yang menjebak setiap manusia agar terus menjadi budaknya. Kita adalah budak budak pekerja yang makan dari sampah tailing dan bunga hutang di bank yang dibagi 250 juta orang!. Kita tidak mau rukun dan kita telah menghapuskan semua rukun yang membuat kita teliti melangkah setapak demi setapak. Kita ingin terbang tinggi tetapi lupa pakian tertinggal di tepi kali yang mengering dan penuh sampah bekas pesta para penipu.

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

4 Comments

  1. gupranmuhsan says:

    mari kita memulaikannya dgn merukunkan diri agar diri bisa tertib melakukan segala tugas, kemudian merukunkan keluarga agas keluarga tertib menempatkan tiap anggota keluarganya, yg anak jadilah anak,yg amak jadilah amak .juga inak agar jadi inak yang baik, betapa indahnya kerukunan jika dilaksanakan penuh dengan ketertiban.

  2. lmjaelani says:

    Haha, hati hati ada raja tanpa rakyat:)

  3. Hehe raja tanpa rakyat, badan tanpa tangan dan kaki, tapi sekarang kan zaman udah maju , jepang udah nyiapin kaki dan tangan robot, siapa yg mampu pasti bisa membeli tangan dan kaki robot.

  4. Areng says:

    Mudah2an ini dapat menjadi pelajaran bagi kami,yg membaca,,agar tdk lupa kepada rukun2 yg pertama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *