Sejarah Sasak: Kepercayaan Masa Lalu
December 9, 2009
Jenis-jenis Tembakau di Lombok
December 13, 2009

Rumah Tahi Kerbau Dusun Sade

Dusun Sade, Lombok Tengah.Rumah adat Suku Sasak yang berada di Dusun Sade, Lombok Tengah,  lantainya terbuat dari campuran tanah liat dan tahi kerbau. Menurut adat setempat ini merupakan penghormatan pada kerbau yang telah dipekerjakan di sawah.

 

[Sasak.Org] ”KALUNG…kalung…kalungnya,” ucap seorang anak perempuan berambut panjang sebahu berlari menyambut pengunjung Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Gadis kecil berkulit gelap itu menjajakan manik-manik yang dililitkan di lengan kirinya. Sementara tangan kanannya menyodorkan beberapa kalung dan gelang kepada pengunjung yang ingin melihat langsung keberadaan Dusun Sade.

Masyarakat yang tinggal di dusun tersebut semuanya adalah Suku Sasak. Mereka hingga kini masih memegang teguh adat tradisi. Bahkan, rumah adat khas Sasak juga masih terlihat berdiri kokoh dan terawat di kawasan ini.

Suku Sasak adalah penduduk asli dan mayoritas di Pulau Lombok, NTB. Konon, kebudayaan masyarakat terekam dalam kitab Nagara Kartha Gama karangan Empu Nala dari Majapahit. Dalam kitab itu, Suku Sasak disebut Lomboq Mirah Sak-Sak Adhi.

Tak sulit untuk mencapai lokasi ini. Anda hanya memerlukan waktu tempuh sekitar satu jam dari Kota Mataram. ”Selamat datang, ini adalah Dusun Sade kampung asli Suku Sasak,” sapa local guide sesaat rombongan press tour Pemprov Jatim datang di Dusun Sade pada akhir November 2009 lalu.

Pria yang bernama Piladjoe membawa rombongan berkeliling di Dusun Sade. Untuk mengelilingi desa, pengunjung harus melewati jalan setapak berbatu yang cukup rapi dan bersih. Sesekali akan terlihat ibu-ibu rumah tangga sedang memintal benang di halaman rumah masing-masing. Atau akan terlihat pula ibu-ibu sedang memajang aneka suvenir seperti kalung atau gelang di pintu rumah, untuk dijual kepada pendatang atau turis.

Memasuki perkampungan adat Dusun Sade, bau tak sedap menusuk hidung. Beberapa peserta rombongan sempat menutup hidungnya. Piladjoe menjelaskan sedikitnya ada 150 kepala keluarga (KK) yang mata pencaharian dari bertani dan membuat tenun serta manik-manik untuk dijual di depan rumah mereka. ”Rumah mereka terbuat dari tai kebo (tahi kerbau),” kata Piladjoe seperti menerangkan penyebab bau tak sedap.

Rumah adat suku Sasak terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bambu (gedhek). Lantai dari tanah liat yang dicampur kotoran kerbau dan abu jerami. Campuran tanah liat dan kotoran kerbau membuat lantai tanah mengeras, sekeras semen. Cara membuat lantai seperti itu sudah diwarisi sejak nenek moyang mereka.

Meski bau tahi kerbau, rumah adat Suku Sasak, jika diperhatikan dibangun berdasarkan nilai estetika dan kearifan lokal. Orang sasak mengenal beberapa jenis bangunan adat yang menjadi tempat tinggal dan juga tempat ritual adat dan ritual keagamaan.

Setiap rumah lumbung Suku Sasak, terang Piladjoe, mulai dari pondasi bangunan, dinding, lantai semuanya diolesi tai kebo atau kotoran kerbau seminggu sekali. Hal ini merupakan kearifan lokal setempat, untuk menghormati kerbau yang sehari-hari dijadikan alat membajak sawah.

Selain itu, tambah Piladjoe, pintu rumah Suku Sasak sengaja dibuat pendek, agar orang atau tamu yang masuk rumah, membungkuk atau menunduk. ”Itu simbul menghormati tuan rumahnya,” kata Piladjoe.

Kata Piladjoe, setiap minggu orang Suku Sasak, membersihkan rumah dengan tai kebo. Bahkan untuk mencuci lantai rumah yang terbuat dari campuran tanah liat dan tai kebo, juga menggunakan kotoran kerbau tersebut.

Piladjoe juga menambahkan semua bentuk bangunan rumah sasak sama, hanya memiliki 2 kamar, yaitu tempat bersalin dan kamar untuk anak gadis. Letak kamar anak gadis menjadi satu dengan dapur. Dan ada lumbung sebagai tempat penyimpan padi. Bagi Suku Sasak, hanya kaum perempuan saja yang boleh mengambil padi dari lumbung.

”Karena perempuan itu diyakini bisa mengatur dan pintar menabung,” jelasnya.

Sedangkan untuk menyimpan hasil panennya, suku Sasak membangun lumbung. Biasanya, tiga atau empat kepala keluarga membangun satu lumbung padi yang digunakan bersama. Bangunan lumbung padi itu konstruksinya dibuat khusus dengan tinggi tiga atau empat meter. “Untuk mengambil padi, mereka membuat tangga bambu sehingga memudahkan mereka mengambil ataupun menyimpan hasil panen,” ucap Weli.

Selain itu, rumah adat Sasak selain sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat ritual sakral sebagai manifestasi keyakinan kepada Tuhan, arwah nenek moyang, penunggu rumah dan sebagainya. ”Kalau ada yang ingin membangun rumah modern harus pindah dari kampung Sasak,” kata Piladjoe.

Selain bangunan utama, ada bangunan pendukung yakni Sambi, Alang, dan Lumbung. Sambi, tempat menyimpan hasil pertanian. Alang sama dengan lumbung berfungsi untuk menyimpan hasil pertanian, hanya alang bentuknya khas, beratapkan alang-alang dengan lengkungan 3/4 lingkaran namun lonjong dan ujungnya tajam ke atas.

Lumbung, tempat untuk menyimpan berbagai kebutuhan. Lumbung tidak sama dengan sambi dan alang sebab lumbung biasanya diletakkan dalam rumah/kamar atau di tempat khusus diluar bangunan rumah. ”Sambi didirikan secara patungan beberapa anggota keluarga. Biasanya empat anggota keluarga,” terang Piladjoe.

Yang tidak kalah penting, tambah Piladjoe, untuk membangun rumah, suku sasak punya kepercayaan sendiri yang sampai sekarang masih diuri-uri (dilestarikan). Waktu pembangunan biasanya berpedoman pada papan warige dari primbon tapel adam dan tajul muluk. Tidak semua orang mampu menentukan hari baik. Biasanya mereka bertanya kepada pimpinan adat.

”Orang Sasak meyakini waktu yang baik memulai membangun rumah adalah bulan ketiga dan keduabelas penanggalan Sasak yakni Rabiul Awal dan Dzulhijjah,” terang Piladjoe.

Selain itu, saat membangun rumah, juga ada pantangan yang harus dihindari. Pantangan yang dihindari untuk membangun rumah adalah pada Muharram dan Ramadhan. Menurut kepercayaan, rumah yang dibangung pada bulan itu cenderung mengundang malapetaka, seperti penyakit, kebakaran, sulit rezeki dan lain-lain.

”Tempat mendirikan bangunan juga tidak bisa sembarang. Tempat yang tidak tepat, dipercaya mendatangkan marabahaya,” kata Piladjoe.

Orang Sasak tidak akan membangun rumah berlawanan arah dan ukurannya berbeda dengan rumah yang lebih dulu ada. Menurut mereka, melanggar konsep tersebut merupakan perbuatan melawan tabu. ”Itu bagian membangun keharmonisan antarsesama,” pungkas Piladjoe. n

Oleh : Siska Prestiwati W

Surabaya Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *