Ekspresi Sasak Jangan Salah!
November 18, 2009
Mengenang Pertempuran 7 Juni 1946 di Selong NTB
November 22, 2009

Sang Hakim Sasak

Hazairin R. JUNEP[Sasak.Org] Siang kemarin kami makan bersama dengan makanan khas Siberia dengan salad sejenis lobak mentah. Salah satu tamu kami adalah seorang kakak laki laki dari ibu yang mengundang makan. Ibu itu memperkenalkan saya sebagai warga dunia dari Indonesia. Bapak itu benama Vasily, tinggal dan bekerja di pabrik pupuk sekitar se jam perjalanan dengan bis dari tempat kami. Dia pekerja keras dan wajahnya mencerminkan seorang sederhana dan jujur. Selama kami makan dia banyak bercerita tentang kehidupan yang berubah dan pengalamannya waktu dikrim sebagai tenaga wajib militer di republik lain Uni Sovyet. Dia minta logam rupiah untuk koleksi , rupanya dia seorang numismatik. Saya sendiri adalah numismatik dan pilatelis di Indonesia. Koleksi saya banyak sekali koin dan perangko dari seluru dunia tapi adik adik saya yang tak mengerti menjadikan koleksi saya sebagai mainan dan menghilangkannya satu persatu. Hobi tidak boleh menjadikan kita terlena tetapi hobi yang baik adalah yang memberi kita manfaat dari segi pengetahuan dan pengalaman plus pergaulan luas. Banyak orang berhasil mengembangkan hobi menjadi sumber kehidupan yang layak dan bahkan sukses dalam bisnis.

Hobi lain saya menekuni berbagai bahasa dan mendalami budaya serta filsafat telah membawa saya ke berbagai penjuru dunia sebagai warga dunia penghimbau perdamaian. Kesukaan saya membaca berbagai buku pengetahuan memberikan saya pengetahuan untuk menolong orang lain dalam memecahkan kesulitannya sendiri dengan hanya menunjukkan langkah dan pilihan dia yang mungkin tidak salah tapi kurang menguntungkan. Dengan kata lain saya hanya memberi altrenatif cara memandang yang berbeda. Kadang setelah kita pindah beberapa derajad dari sisi duduk kita pemandangan jadi total berubah. Mana lebih baik, mengubah posisi duduk atau menyalahkan diri sendiri?.

Setelah kami selesai makan dan tamu sudah pergi, ibu itu meminta konsultasi kepada saya tentang persoalan yang dihadapi dengan berbagai orang disekitarnya. Dia mulai bercerita bahwa kakanya orang miskin. Saya memotong, tapi dia orang baik hati, saya dapat merasakan dari cara bicara dan tertawanya. Ibu itu mengiyakan. Memang kakaknya jarang sekali datang dan selalu minta ijin untuk bekunjung, maklum mereka hanya dua saudara. Kunjungan inipun untuk berkenalan dengan saya katanya. Ibu itu mulai bicara tentang anak angkatnya yang dipungut sejak umur 10 tahun, ibunya menghilang, bapaknya menjual rumah lewat agen milik ibu itu dan melihat gadis kecil dekil tidak karuan. Ibu itu iba dan mengasuhnya tanpa secara resmi mengadopsi sebab ayahnya tingal seorang diri. Setelah anak perempuan itu besar dan muali melawan, ibu itu menjadi risau. Anak itu tidak tahu balas budi katanya. Misalnya waktu operasi dan sakit gadis itu malah menghilang dan dia hanya datang untuk makan dan ibu itu memenuhi semua kebutuhannya. Sekarang anak itu sudah bekerja dan belum pernah memberi uang hasilnya kepada ibu itu sepeserpun. Dia sangat jengkel ketika anak angkatnya bercerita bahwa ayahnya dicuri uangnya oleh saudaranya yang jadi kriminal maka habislah gajinya sebulan dan ia terancam tidak makan. Anak itu pulang dan memberi 90% gajinya agar ayahnya selamat sedang dia datang ke ibu angkatnya untuk hidup enak sebagaimana biasa. Bagaimana pendapatmu katanya.

Saya manusia Sasak yang tidak tedeng aling aling kalau omong, saya cukup minta maaf dan mengatakan bahwa apa yang ibu keluhkan adalah sampah. Dia terkejut setengah mati, saya juga kaget keceplosan, sungguh. Saya mulai memujinya sebagai manusia berhati malaikat, yang memungut anak terlantar berkutu, dekil dengan baju compang camping. Terus terang saya tidak tahu kondisi anak itu tapi dari cerita ibu itu sebelumnya saya menguraikan dan menggugah kembali ingatannya. Ya, memang kondisi anak itu sangat menyobek hatinya sehingga dia memutuskan untuk mengasuhnya. Saya katakan dengan sangat perlahan bahwa kemuliaan hati ibu mengangkat seorang anak yang malang dan sekarang sudah tumbuh jadi wanita anggun dan dapat berdiri sendiri janganlah dikotori oleh perasaan cemburu hanya karena dia menolong ayahnya dan tidak memberimu uangnya yang sepeser itu. Saya tentu sangat faham bahwa ibu itu tidak butuh uang karena dia punya segalanya. Dia mengelak disebut cemburu dan ada setitik rasa malu disudut wajahnya yang tenang. Memang bukan cemburu sembarang cemburu, itu adalah perasaan seorng ibu yang tidak dimengerti oleh anaknya, lagi pula dia anak angkat. Apakah anakmu sendiri dapat mengerti tentang dirimu sepenuhnya?. Lihatlah bagaimana Tuhan telah mebalas kebaiakanmu denga segala kemudahan yang kau peroleh dari bisnismu yang sukses. Tuhanlah yang terus menolongmu siang dan malam, atau apakah engkau merasa telah melakukan segalanya atas suksesmu ini?. Dia menggeleng dan berterima kasih. Semoga dia tidak terluka atas perkataanku. Saya telah mengenal ibu itu bersama beberapa orang yang mencari hikmah dalam perjalanannya ke Jogjakarta. Saya telah menjadi guru bagi mereka dalam beberpa soal yang sangat sepele. Dia dan rekannya terkesan saat saya menerangkan bagaimana memberi dan melupakan. “Tangan kirimupun tak boleh tahu apa yang diberikan oleh tangan kananmu”.

Suatua hari seorang tertuduh memasuki ruang sidang dengan wajah menunduk, dia melihat pak hakim dengan tatapan penuh keraguan dan ketika pak hakim melihatnya hal yang sama terjadi, kali ini pak hakimlah yang menatapnya dalam dalam. Ketika persidangan dimulai si tertuduh ditanya identitasnya dan pak hakim jadi risau sebab dia tidak salah lagi, orang itu adalah sahabatnya yang sangat baik ketika masih muda. Nasib memisahkan mereka dalam jangka lama sekali dan temannya itu hidup dalam kesulitan berkepanjangan. Suatau saat kawan itu terlibt kasus yang membuatnya masuk dalam tahanan dan kini duduk diruang sidang. Pak hakim mempelajari kasusnya dengan seksama dan secara profesional dan berdasarkan rasa keadilan dia menjatuhkan hukuman denda berat sekali atas pelanggaran yang dilakukan kawannya itu. Si tertuduh tidak merasa sedikitpun berkurang rasa hormat dan sayangnya kepada hakim, meskipun dia pucat atas ketokan palu itu, tapi dia memandang dan memberi hormat tanda setuju. Pak hakim tentu saja hakkul yakin bahwa kawannya tak dapat membayar hukuman denda yang besar itu. Pak hakim turun dari meja sidangnya dan berjalan ke arah siterhukum dan memegang pundaknya seraya mengumumkan bahwa dialah yang akan membayar denda itu untuk kawannya.

Kini kita menyaksikan orang orang yang bersahabat dan duduk sebangku disekolah kepolisian dan bahkan bekerja dikantor sama berpuluh tahun meniti karir, saling tuduh dan jatuhkan didepan umum. Kita melihat jaksa mengancam rekannya hanya karena perbedaan tempat duduk. Di tempat lain kita melihat tokoh besar memanfaatkan orang lain untuk menggarong harta negara. Perasaan iri hati atau cemburu dan kerakusan dapat merusak semua tatanan yang dibangun oleh para perintis negara kita. Orang orang busuk telah mendapat kekuasaan dimana mana dan ketika mereka ketakutan dibongkar kebusukannya, merekapun bermain sandiwara dengan wajah penipu seribu rupa. Inilah wajah Rahwana yang dapat menengok 360 derajad dengan kekuatan tipu daya yang telah menina bobokkan anak bangsa. Kini ancaman kelaparan tidak hanya disebabkan oleh pemanasan global. Khususon di negeri jahannam ini kelaparan disebakan oleh pembusukan gelobal atas hati nurani manusia.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *