Sasak Memberontaklah!
November 10, 2009
Kleptomania itu adalah Sasak!
November 15, 2009

Sasak Berhentilah Gila!

H. R. Junep[Sasak.Org] Orang yang percaya akan melihat kesempatan dalam kesulitan sedang orang fasik melihat kesulitan dalam setiap kesempatan! Seorang mukmin melihat dengan yakin, baik dalam ketenangan maupun dalam kekacauan, suatu kesempatan besar untuk sentiasa menebar rahmah dari Rabbnya, agar kasih sayang dan kedamaian berkembang dalam segala keadaan. Oleh karena penghuni dasan semua mengaku muslim ahlusunnah waljamaah, ahli hijib, ahli apa saja hingga ahlil kubur maka kita semua take it for granted alias menerima begitu saja bak kerbau dicucuk hidungnya kalau kita semua adalah sefaham dan sejalan dalam ketetapan bersiratalmustaqiim itu.

Ketika si fulan yang beranak pinak lebih cepat dari syaiton dan si oknum yang lebih banyak jumlahnya dari semua penghuni dasan menempati kursi kursi kekuasaan lalu menipu, menelikung, merampas, mendustai, memperkosa, mengutil, dari tingkat satu sen sampai hitungan tak terhingga dan dari level gubuk sampai yang bercokol di keraton secara berjamaah maupun berdikari, kita mulai mendengar riuh rendahnya orang minta sumpah sambil mengungkapkan sumpah serapah sendiri mengutuk si datu, si punggawa, si demung, si jagabaya, siapa saja. Sumpah dengan Al Qur’an, sumpah pocong atau sumpah jabatan! Tanpa kita sadari bahwa setelah bertahun tahun kita melihat orang bersumpah maka terjadilah degradasi sumpah menjadi sekedar memaki diri. Siapa saja dan mau menduduki apa saja harus disumpah! Orag yang disumpah ini seharusnya adalah orang yang bersaksi bahwa dia melaksanakan amanatnya atas nama dan hanya untuk Tuhannya. Mengapa sumpah itu bak hilang terbang bersama debu setelah seremnoni selesai?. Si tersumpah mulai menggarap apa saja untuk kepentingan perutnya.

Sekarang masyarakat mulai menyayangkan semua kejadian yang menimpa anak bangsa akibat dari keserakahan para pelaku kriminal berseragam dan telah bersumpah sejak mulai pendidikan sampai saat wisuda dan tiap menerima SK jabatan baru! Pokoknya sumpah tidak boleh terlewatkan sedetikpun. Saking seringnya bersumpah maka orang menjadi bebal, dan tidak peka. Ada orang yang begitu adiktif menggunakan sumpah serapah dalam percakapan sehari hari. Di dasan yang terpencil, anak anak tanggung dan pemuda yang sok hebat bicaranya dengan logat Betawi, meskipun mereka tidak faham karena hanya mendngar dari jauh. Misalnya sering diucap kutukan: ” Sialan Lu!”, baik sedang main main atau serius terus diulang. Kutukan itupun jadi basi. Kutukan model dasan seperti : “Jadah” atau “F*#@$ U” import dari Holywood dan sejenisnya merajalela dalam setiap percakapan. Lantas darimana kita dapat mengharap bahwa sumpah itu bisa sakti atau “mandi” dan memberi akibat kepada yang disumpah?.

Kalau kita sedang membaca buku maka sebagai pembaca efektif kita akan membuat garis bawah dengan tinta terang disetiap kalimat penting dari isi bacaan kita. Karena kita memahami atau menginginkan bagian itu untuk kita kaji lebih dalam. Setidaknya bagian dari tulisan itu membuat kita lebih terfokus. Begitupun saat kita beribadah atau bersembahyang dan bekerja, kitapun akan menemukan bagian bagian penting yang kita garisbawahi. Saat memulai apa saja kita tidak berani berkata bahwa kita bekerja atas nama diri tapi dengan menyebut nama Tuhan, kita mulai beraktifitas. Berarti semua yang dihadapan kita adalah milik Tuhan kita. Kita menggaris bawahi semua daftar tanda tanda kebesaran Tuhan disetiap mili pemandangan yang terlihat. Efeknya adalah zikir yang tak terhenti, sebab detak jantung kita adalah gerakan menggarisbawahi dengan tinta terang pengakuan demi pengakuan atas Kebesaran Tuhan kita. Jika demikian untuk apakah kita disumpah sumpah apalagi sampai dikutuk kutuk!?

Berkali kali saya menandasakan bahawa kita para penghuni dasan ini pandainya mengomel dan menyesali masalah yang makin hari makin rumit tapi tak seorangpun meributkan sebab sebab permasalahan timbul. Seharusnya bukan akibat yang terus kita pelototi agar kita tidak terus ditipu oleh si fulan dan si okunum. Bukankah metode dan startegi dipelajari untuk bergerak pada permulaan? Di tataran awal yang akan menjadi sebablah yang kita dalami. Kalau sudah ada akibat maka yang bicara adalah hukum! Kita hukum apa sebuah kejadian dan apa yang harus ditimpakan kepada manusianya atas kesalahannya?. Kita bingung sebab apa sebuah perkara timbul dan kita bingung pula mencari celah, untuk menghindari ketokan hukum atas sebuah perbuatan. Kalau semua celah telah tertutup kita ramai ramai membuat hukum baru agar semua selamat dan permainanpun segera melupakan awal kejadian sebab permainan akhir jauh lebih menantang dan nikmat ditonton bukan?.

Penyakit malaria yang banyak membunuh anak dasan dan kolera serta peyakit mengerikan lainnya telah dapat diatasi secara perlahan tapi pasti oleh karena yang didalami pertama tama adalah penyebabnya bukan kaibatnya. Malapetaka korupsi dan kerawanan sosial yang menimpa anak dasan harus segera diselidiki asal muasalnya dari segala sudut ilmu pengetahuan. Karena manusia modern inginnya fakta yang dapat dilihat mata dan disentuh tangan. Penyakit korupsi seperti halnya maling, pelacuran dan pengemis adalah penyakit jiwa. Kalau ada orang hobi mencuri untuk memuaskan diri kita sebut kleptomania. Kalau korupsi, mengapa tidak digolongkan sebuah penyakit yang jauh lebih dahsyat dari kleptomania? Bukankah akibatnya sangat berbahaya sehingga seluruh rakayt bisa mati kelaparan?. Kalau kita lihat dijalan alangkah banyaknya pengendara motor yang dirampas duitnya oleh aparat karena pelanggaran yang dicari cari. Di kantor kantor dinas yang berkompeten mengurus surat surat penting tiap orang juga memberi amplop berupa uang rokok! Si aparat di jalan raya adalah manusia sakit jiwa karena menganggap pengendara motor adalah sumber rezekinya tiap bulan. Si Pengendara motor juga sakit jiwa sebab dia takut pada aparat sampai mau mengeluarkan uang baik dia salah atau benar. Si pencari surat adalah orang gila sebab dia membayar sesuatu yang tidak seharusnya dibayar dan si pegawai adalah orang edan yang pura pura berjualan barang yang bukan komoditas perdaganagan. Masing masing terlibat dalam kegilaan dengan tingkat yang berbeda beda. Pencoleng yang tiap hari mengambil dari kantor berupa barang kecil kecil adalah kleptomania, nah tolong hitung berapa banyak kleptomania di dasan kita?

Maukah kita mengetahui sumber dari segala sumber penyakit jiwa berjamaah ini? Bagaimana mungkin para guru, PNS, TNI dan POLRI yang mau urus naik pangkat saja harus nyogok, menipu sertfikisai, ber KKN dan sebagainya? Sudah barang tentu sumbernya adalah dari jiwa yang kerdil, yang lupa bahwa sejauh mata memandang adalah setiap milimetrenya merupakan milik Tuhan! Untuk apa shalat 5 kali mengucapkan, : ” sesungguhnya shalatku, hidupku dan matiku adalah milik Allah!”. Apa shalat itu adalah sama dengan senam polandia atau senam pagi saja?. Ketakutan tidak dapat bagian, takut mati kelaparan,takut tidak sama dengan tetangga, takut tidak bisa nyalur TV kabel 10 ribuan, takut tidak dapat pensiun, takut tidak dapat raskin dan BLT, takut tidak dihormati, takut tidak terkenal di tingkat dasan, takut , takut dan takut! TG pun saya dengar berusaha mendapatkan fasiltas berobat gratis dari pemerintah. Tidak kurang dari TG, mereka sudah sakit jiwa semua sehingga ulama merekapun dibiarkan terhina. Negara ini akan hancur sebentar lagi sebab semua anggotanya sakit jiwa dan saling melempar tuduhan atas kesalahan diri sendiri. Rupanya yang bersumpah jabatan tiap hari itu adalah orang sakit jiwa sehingga sumpah yang menyebut nama Tuhannya tidak mandi alias pela (tumpul). Ya Allah, dalam tangis yang membeku ini kupohonkan padaMU, selamtkanlah anak bangsaku dari gangguan kejiwaan agar mereka berhenti mencuri dari sakunya sendiri. Amin Ya Rabbal Alamiin

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *