Catatan dari Sasak Diaspora di Tanah Seberang
April 1, 2009
MENCARI JEJAK SOSOK “TUAN GURU” DI GUMI SELAPARANG
April 2, 2009

Sasak Sang Pewaris

Hazairin R. JunepAssalamualaikum WR WB.

[Sasak.Org] Di dasan kami yang sesak dan pengap sekelompok anak muda yang bersemangat, berbakat dan ikhlas membentuk paguyuban bagi dirinya sendiri. Dimulai dari seorang pepadu yang luka hatinya melihat dasan yang lebih tepat disebut dasan pesok dari pada dasan pusuk. Dasan kami pesok karena wajahnya memang porak poranda. Orangtua dan anak tak terurus bergentayangan pagi dan sore. Hanya kalau siang saat matahari terik mereka bersembunyi. Cerita busung dan kematian ibu dan bayi adalah relief yang terus bersambung mengukir wajah dasan. Keadaan ini lebih buruk daripada dasan pusuk yang penduduknya berekor dan makanannya datang sendiri tanpa bekerja. Sebagian kecil dari orang kota yang beruntung lebih suka membawa makanan kecilnya ke pusuk daripada diberikan pada makhluk bergentayangan di dasan kami.

“Barang siapa yang tidak sayang kepada generasi muda maka dia bukanlah ummatku”, hadits ini sangat jelas perintahnya dan mengerikan akibatnya bila dihianati. Tapi manusia dasan kami tak suka membangun manusia dan kemanusiaan. Mereka lebih tertarik membangun menara babel yang menjulang. Menghabiskan uang untuk membeli mobil dan membuat rumah mewah dengan dinding tinggi. Satu tetangga tak kenal dengan yang lain. Tak ada basa basi. Apakah kutukan menara babel itu kambuh juga di dasan kami ini?. Mungkin saja, bukankah kutukan menara babel adalah menghilangnya kemampuan berkomunikasi antar para stakeholder?. Insinyur dan arsitek serta pekerja saling tidak faham bahasanya. Bukankah anggota masyarakat dasan sudah tidak dapat berkomunikasi lagi?. Pepadu yang mencari jati diri terjerumus jadi maling dan semua menyerbunya sampai mati bangkang. Sesudah itu semua cuci tangan. Orang tua kelaparan yang mencuri pisang diarak dan dipenjara 3 bulan sama dengan korruptor besar di kabupaten. Aduhai kutukan babel sedang menimpa dasan kami.

Komunikasi yang buruk dari generasi tua ke generasi muda telah memporak porandakan bangunan kokoh yang menunjang dan melindungi anak bangsa kami. Ikatan kekeluargaan dan adat melepuh oleh panasnya kapitalisme. Pepadu kita menyadari bahaya yang mengancam masa depan ibu pertiwi. Maka paguyuban kecil itu dibentuk agar luka bakar budaya ini dapat diobati sendiri dengan bahan bahan alami yang tumbuh di sisi sisi jalan dasan kami. Beruntung masih ada papux papux yang rajin menanam berbagai pohon kehidupan walaupun hanya menancapkan dan meninggalkannya begitu saja.

Merosotnya nilai kemasyarakatan di dasan kami sesungguhnya berawal dari hilangya para pewaris kepemimpinan sejati Wangsa Sasak. Kini tanggung jawab utama membangun kembali karakter sang pewaris ada dipundak pepadu yang tergabung dalam paguyuban itu. Mereka pucat pasi saat menyadari bahwa tanggung jawab sebesar itu harus diperjuangkan. Banyak tokoh pecundang yang meremehkan paguyuban tapi itu hanya omongan orang kalah. Bung Karno merintis perjuangannya dari kamar kosnya yang sempit dan dia sangat muda saat meneriakkan proklamasi dalam waktu 5 menitan saja. Betapa besar efeknya, dunia gempar dan tidak hanya papux yang kelaparan itu yang merdeka tapi seluruh bangsa jajahan di dunia, berjingkrak melompat girang gembira.

Dasan kami penuh dengan manusia yang tidak merdeka. Berapa banyak kita salah sangka ketika melihat tokoh kita yang jadi pejabat dan anggota dewan serta PNS. Orang dasan memandang mereka yang parlente hinggá terbit liurnya. Mereka mengiri, betapa indah hidup dengan seragam dan lencana. Orang dasan lupa merekalah manusia merdeka sesungguhnya. Saking lupanya, hilang pulalah rasa syukur atas rahmat itu. Lihatlah dengan cermat kemana tokoh kita pergi dengan kendaraannya tiap bulan? Selain ke tempat makan enak dan berkerumun di kantor, mereka datang dengan tertib ke Bank untuk membayar hutang atau petugas bank datang tiap bulan kerumahnya. Apakah warga dasan yang tidak pandai bersyukur itu tidak mau mengerti bahwa sesungguhnya HUTANG adalah pertanda utama dari KEMISKINAN?. Ya, orang parlente itu sebagian besar adalah kaum miskin yang mengelompokelitkan diri.

Sekarang jelaslah perkara di dasan kami, begitu sesak dan memilukan keadaan peri kehidupan mereka yang fakir dan miskin. FAKIR adalah mereka yang tidak punya dan tak berdaya alias miskin absolut. MISKIN adalah mereka yang punya tapi tidak cukup. Tapi sesungguhnya penghuni dasan ini masih punya kualitas bagus, karena masih ada rasa haru dan kasih sayang kepada sesama. Mereka minum kopi dengan cangkir yang sama berempat atau lebih. Kalau tokoh kita melakukan hal kotor seperti korupsi bisa sendiri atau gotong royong. Para pepadu tidak lagi heran mengapa pemerintah tak kunjung bertindak dalam mengatasi krisis demi krisis kemanusiaan di dasan kami. Rupanya tokoh tokoh kita yang memegang kendali adalah orang miskin juga.

Paguyuban pepadu dasan itu sedang berjuang keras untuk menyiapkan para pewaris agar mendobrak keterpurukan dan kejumudan dasan kami. Untuk itu harus digaris bawahi lagi pokok pokok ajaran papux balok kita mengenai bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin kuat dan kharismatik adalah hasil pembanguna karakter ribuan tahun. Bukankah Nabi Ibrahim meretas jalan kepada Allah Yang Maha Esa 4000 tahun yang lalu?. Nah para pemimpin besar dunia mendapat ilmu dari Beliau melalui guru dan guru dan guru yang berkualitas dari generasi tua kita. Untuk dapat menjadi pemimpin yang ideal setidaknya ada 4 perkara yang harus dimiliki oleh manusia.

1. Kekuasaan
Seseorang harus berkuasa pertama tama atas dirinya. Berkuasa melawan hawa nafsunya sendiri. Berkuasa untuk menentukan langkah tepat untuk keberhasilkan diri dalam menempuh cita cita. Kekuasaan itu bukan manusia yang buat, tapi Allah yang memberi. Lihat berapa banyak poster mengotori dasan kita tapi hanya satu yang sungguh akan jadi pemimpin sejati. Walaupun diakali dengan uang dan main kayu tapi masyarakat yang sholeh akan mendapat pemimpin sejati dari Allah semata.

2. Tanggung jawab
Seorang yang berkuasa hanya bisa berhasil bila semua perbuatannya disertai tanggung jawab dalam menjaga keharmonisan lingkungan. Seorang calon pemimpin harus dibangun tanggung jawabnya dengan disiplin tinggi berdasarkan akidah yang kuat bahwa segala sesuatu itu akan dipertanggung jawabkan di hadapan Sang Khalik. Tanggung jawab kepada alam dan seisinya serta tanggung jawab kepada Allah.

3. Kekayaan
Seseorang yang berkuasa dan bertanggung jawab dapat menjalankan semua idealismenya bila dia memiliki harta yang cukup. Calon pemimpin harus mempu mengusahakan kekayaan atau harta yang cukup untuk menjalankan tanggung jawabnya. Kelak bila menjadi pemimpin tak akan menjadi penghutang. CUKUP adalah apabila terjadi keseimbangan antara kebutuhan rohani dan jasmani. Bukan keinginan yang tiada batas yang dapat menjerumuskannya ke penjara karena korupsi.

4. Agama dan IPTEK
Seseorang yang berkuasa dan bertanggung jawab itu hanya bisa menjalankan segala sesuatu dengan berhasil guna bila akhlaknya baik dan ilmunya cukup. Bagaimanapun seorang manusia mula mula harus mengerti tentang dirinya sendiri melalui pendidikan yang sesuai dengan karakteristik kebudayaan mereka. Kebudayaan yang gemilang adalah buah dari peribadi yang berkilau oleh akhlak dan ilmu pengetahuan.

Paguyuban kecil ini sedang membangun manusia dari dalam, karena kita telah capai melihat pemimpin gadungan, TG karbitan dan sarjana aspal dari PT dengan rektor tamatan SMA. Semoga paguyuban ini dapat mewarnai karakter anak dasan kami yang sedang batuk pilek dan mencret akibat stamina lemah karena kurang gizi dan tak sanggup melawan cuaca. Semoga makin berkuranglah orang parlente tapi miskin.Semoga makin pandailah wangsa kami mengucap syukur. Dan semoga Allah selalu memimpin kami dijalan yang lurus. Amiiin Ya Rabbal Alamiiin

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf

Yang Ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *