Sasak Sang Restaurator
November 2, 2009
Sasak Yang Terlena
November 3, 2009

Sasak Sang Peziarah

[Sasak.Org] Papux saya telah menabung cukup lama untuk mendapatkan uang carter mobil dari Selong ke Lombok Barat. Dimasa itu dia adalah salah satu busniswomen terpenting di dasan. Dia membuat revolusi kuliner dengan mengenalkan pecel pada masyarakat yang setiap hari makan beberox urap urap. Dia memperkenalkan resep berbeda meskipun pelecingnya tetap merebakkan aroma disepanjang jalanH. R. Junep pahlawan. Orang antre untuk menunggunya meracik bumbu yang sudah dipersiapkan dari rumah, tinggal digilas dicobek besar dan diberi air matang. Saya sering membantu menumbuk bumbu dan mengangkutkan dagangan. Hadiahnya adalah dua kaki ayam pelecing yang dahsyat. Sampai saat ini saya sangat doyan kaki ayam dan selalu jadi jatah saya tiap kami makan sop atau gulai ayam. Selain enak, kaki ayam juga bermanfaat besar untuk kesehatan, menurut kepercayaan kami.

Kami berangkat pagi dengan seluruh sesepuh keluarga. Saya beruntung terpilih ikut mendampingi amax bersama kakak saya yang tertua. Rombongan kami merayap dijalan berkelok kelok dan sempit. Sampai makam Saleh Sungkar kami diajak ziarah. Saya hanya menonton dari luar, mengamati apa yang diperbuat orang dewasa. Makam itu berkelambu, saya bertanya dalam hati bagaimana orang sudah mati masih takut pada nyamuk. Sesudah itu kami meneruskan ke Batu Bolong yang angker. Dahulu wilayah itu benar benar tempat jin buang anak, maksudnya kalau ada orang jahat maka anaknya dia buang sejauh mungkin sampai di tempat itu. Kemudian jinlah yang difitnah membuang anak. Rupanya ziarah itu memberi manfaat besar bagi saya untuk menemukan bahwa betapa manusia suka menipu dan memfitnah makhluk lain. Acara berikutnya adalah mengambil air suci di sumur yang penuh dengan uang logam dan orag tua belanger dengan kelapa parut, beras kuning dan bunga setaman menurut ingatan saya. Ketika orang mulai minum air dan beraup muka dan dikucur kepalanya dengan air saya menolak dan lari menjauh. Papux saya ngomel peteng dedet. Saya tidak mau kotor dan lengket, hanya itu alasan saya. Kok diomeli sampai dedes begitu. 

Hari inii saya dan rekan saya tiga orang pergi berkunjung ke Gereja Ortodoks Rusia, Monaster, Masjid dan Sinagog. Saya seorang mukmin dan meyakini kebenaran ajaran para Nabi dan Rasul Allah. Adapun masalah penganut agama lain itu sudah menghianati atau mengganti ajaran sesungguhnya saya kesampingkan karena betapapun lihainya manusia menyembunyikan, menipu dan memfitnah masih tetap akan terbit kebenaran dicelah celahnya. Yang salah tetap salah yang benar tetap benar. HAKIM TUNGGAL akan mengadili kelak dihari pembalasan. Saya tidak berani jadi hakim untuk orang lain apalagi agama lain. Hakim adalah penghuni neraka mayoritas, tetapi sesuai perkembangan taktik memfitnah dan menipu manusia, profesi lain akan sama banyaknya termasuk guru apalagi TG yang bergelimpangan, polisi, tentara dan rakyat yang diam seribu bahasa melihat kebatilan. Saya juga termasuk dalam daftar ke neraka karena diam saja tidak berjihad melawan kejahilan anak bangsa Sasak. Sehingga mayoritas saudaraku bodoh, miskin, penyakitan dan momot meco nunggu bareng masuk neraka.

Pertama perjalan kami arahkan ke gereja ortodoks kecil di rayon Leninsky. Kecil tapi rapi, bersih dan teduh. Kami masuk dan rekanku membuat gerakan salib dengan menyatukan jempol, telunjuk dan jari tengah, seperti kita mengambil kangkung untuk dicolekkan ke sambal. Lalu jemari ditempelkan di jidat lalu ke perut, bidang dada kanan dan bidang dada kiri. Itu sebabnya disebut pravaslavna yang artinya kanan, merujuk ke tangan yang dimulai ke kanan baru ke kiri. Bandingkan dengan Katholik yang melakukan sebaliknya. Di dalam gereja itu kami membuka topi dan kaus tangan, yang wanita harus pakai rok dan kerudung. Kami membeli lilin untuk berdoa dan kedua rekan saya memilih gambar berupa ikon ikon orang suci lalu menyalakan lilin dan berdoa sementara saya berputar melihat gambar gambar orang suci yang tak satupu saya kenal. Di Dasan orang mulai berbuat meniru niru cara Kristen itu dengan memasang gambar TG dan ajimat ajimat. Bagaimana mungkin TG yang ulama sebagai penjaga akidah ummat tidak melarang hal demikian. Semua orang Kristen juga memulainya seperti itu, mengkultusakn tokoh lalu mengangkatnya menjadi orang suci. Saya berdiri didepan gambar Yesus. Saya pernah mendebatkan gambar itu pada pemimpin agama Kristen yang berkedudukan di London. Bahwa itu bukan Yesus atau Isa AS. Dia bialng tidak penting gambar itu yang penting percaya. Saya mempelajari dari Orang Spanyol Katholik bahwa gambar itu adalah Gambar Raja Charles Yang Agung dan Gambar Bunda Maria adalah gambar Ibu dari Raja itu. Orang Kristen umumnya tidak tahu tapi para ulama mereka tentu tahu sebagaimana meraka tahu bahwa Yesus tidak lahir di bulan Desember atau Januari. Natal dimana mana jatuh pada tanggal 25 desember sedangkan di Rusia dan Negara ortodok jatuh pada 6 janusari. Sekali lagi saya tidak menghakimi tetapi saya sedang merenungkan perjalan manusia.

Kunjungan berikutnyaadalaj Masjid, saya melihat ramai sekali lelaki yang akan siap shalat jum’at, saya tak dapat ikut karena halangan. Saya membuka pintu dan sajadah tergelar diseluruh ruangan. Masjid itu punya tempat khusus untuk pendengar non muslim yang boleh masuk saat azan akan dikumandangkan. Saya tidak mengizinkan dua rekan saya itu masuk karena tak ada kerudung untuk yang perempuan. Saya ajak mereka pergi. Saat berjalan saya merasakan begitu eratnya silaturahmi antara sesama muslim. Saya ingat waktu SD kami makan tebu yang sama bergantian menggigit dan juga jajanan lain kami saling berbagi. Saya mmelihat orang orang itu seperti kami saling berbagi roti dan lainnya. Alangkah dekatnya persaudaraan mereka. Di luar masjid ada yang berjualan roti, pakaian, parfum dan pernik pernik ibadah lain. Wajah mereka sebagian besar Asia atau Turki dan ada beberapa yang bule.

Selanjutnya ke Sinagog yang dibangun abad ke 19 dengan arsitektur khas. Saya langsung masuk dan mengucapkan Shalom. Sang penjaga bengong tak menjawab. Lalu kami minta izin melihat lihat. Dia mempersilahkan dan menunjukkan arah. Saya langsung menuju mimbar dan mebuka Kitab Taurat bertuliskan huruf Ibrani. Dan saya melihat segala pernik untuk ibadah. Di dalam sinagog ini ada tempat makan, main sodok dan sebagainya. Rupanya sinagog juga adalah pusat kebudayaan mereka. Di dasan masjid dipakai hanya untuk senam 5 kali sehari, tidak ada perpustakaan apalagi sarana lainnya padahal masjid adalah pusat kehidupan ummat Islam. Saya bercerita pada penjaga bahwa kami mengunjungi rumah ibadah. Dia bilang di blok berikutnya ada Masjid. Dia bilang sebentar lagi ada shalat disana kalau mau lihat. Kalau disini sudah tadi malam acaranya. Dia bertanya saya darimana dan saya jawab Indonesia. Dia bilang: “Muslim ya?”. Saya menjawab ya. “Saya seorang muslim dan bekerja disini. Saya tak dapat shalat jumat karena tugas. Rabi sangat hormat pada saya dan agama islam. Rabi melindungi saya” katanya. Saya pamit dengan menucapkan Assalmualaikum dan dijawab dengan fasih dengan beberepa kali mengucap Slava Allah, Slava Allah: Alahamdulillah! Maksudnya. Sinagog dan Masjid berada dipusat kota di deretan gedung gedung berusia 200 tahun.

Kami meneruskan perjalanan ke sebuah monaster yang cukup besar. Saya langsung masuk ke gereja yang cukup luas dan penuh dengan ikon ikon. Beberapa pasang orang menyalakan lilin di depan gambar orang suci. Saya berdoa dalam hati semoga selalu diberi kekuatan dalam menghadapi cobaan. Di depan gereja dan monsater ada pengemis yang saya kasi logam 10 rubel an atau 3000 rupiah. Saya membeli delima besar dengan harga 55 rubel. Setelah mobil jalan kedua rekan saya bertanya mengapa orang menyerang dengan teriak Allahu Akabar?. Sopir menjawab, itu artinya dia bersama Tuhan. Saya tidak dapat menjawab dengan jelas. Sebab selama ini stigma teroris itu dipertontonkan ke seluruh dunia secara langsung den
gan gambar orang mengamuk, mengebom, menyerang dengan teriakan Allahu Akbar itu. Saya bilang bahwa Muslim menyebut Tuhannya Allah. Allahu Akbar artinya Tuhan Maha Besar. Saya menerangkan bahwa Muslim tidak menggunakan juru selamat atau perantara dengan Tuhannya. Mereka merdeka untuk bicara langsung pada Allah. Yesus bagi mereka hanyalah seorang manusia dan diyakini sebagai salah satu Nabi mereka. Melihat reaksi rata rata orang saat menyebut islam, sungguh luar biasa sekali liciknya musuh muslim itu dalam merusak citra kita. Semua perbendaharaan penting yang membangun dan menegakkan harkat dan martabat Islam dikambing hitamkan dan dicaci maki. Al Qaidah artinya hukum atau kaidah Islam, rusak sudah. Lalu Jamaah Isalmiyah, dipelintir dan jadi busuk. Mujahidin dikotori. Jihad dina’jiskan dan akan terus adalagi cara dan strategi baru untuk semakin membuat kita jadi yang terjelek dari semua manusia jelek! 

Gereja keil dan monaster itu penuh dengan buku dari yang kecil sampai ensiklopedia. Di pintu depan terpampang jadwal kegiatan yang banyak sekali. Mereka hidup dari menjual pernak pernik dan sumbangan jamaah. Mereka melayani perawatan korban narkoba gratis. Di sinagog ada gambar pohon yang berbentuk relief dengan daun maple emas. Cabangnya banyak dan daunnya bertuliskan nama orang yang meberi sumbangan untuk sinagog itu. Salah satu nama yang saya baca adalah Avramovich yang memiliki kesebelasan Chelsea di Inggris Raya itu. Penjaganya seorang muslim dan dia bisa shalat lima waktu tanpa dihambat. Itu sangat sulit terjadi di Gereja di Indonesia. Orang Muslim di Prambanan dan Borobudur adalah mayoritas pekerja disana. Mereka juga shalat lima waktu tanpa terganggu. 

Perjalanan terakhir saya minta ke pasar untuk membeli sim card, ternyata saya tidak boleh membelinya karena tidak punya KTP Rusia. Apa boleh buat kawan saya juga gak ada yang bawa KTP. Kami lalu membeli buah anggur yang lezat diimpor dai Uzabekistan, buah buahan lain semuanya dari Asia Tengah atau China. Seandainya kita bisa mengirim pisang, mangga dan kangkung kita, betapa makmurnya gumi Selaparang. Sebab mereka mengkonsumsi buah dan sayur impor sangat besar jumlahnya. Sampai dirumah saya kedinginan dan diberi bubur yang dibuat dari biji sejenis sorgum, enak sekali tapi diberinya terlalu banyak mentega saya jadi nek setelah makan beberpa sendok. Seharusnya diberi susu saya bilang. Tapi orang rusia memakannya seperti itu. Ya sudah saya simpan di kulkas nanti kalau lapar saya makan lagi.

Ziarah sesungguhnya adalah jalan untuk memahami hidup yang sesuai dengan ajaran agama. Kita harus mengunjungi tempat ibadah dimana orang masih membaca kitab suci dan menghidupkan apa yang dibacanya dalam praktik nyata. Mudahan kita yang telah berziarah baik secara fisik maupun lewat iptek dapat memberi sumbangan cahaya dalam kehidupan anak bangsa Sasak. Agar kita yang termasuk calon penghuni neraka ini dapat berbuat meskipun sebesar zarrah pada saat akhir perjalanan kita keluar dari rentang sang waktu. Insyaallah.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

1 Comment

  1. Lamone says:

    Bagus sekali pencerahannya melalui cerita petualangan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *