Sasak Sang Dukun
October 30, 2009
Sasak Sang Peziarah
November 2, 2009

Sasak Sang Restaurator

[Sasak.Org] Petang ini kami makan malam dengan hidangan Rusia Siberia, ikan asin yang hanya dibersihkan dan direndam garam dalam jangka lama sekali sehingga seolah ikan itu matang.Kalau didasan kita punya ikan peja. Saya tidak bisa memakan ikan itu baik di dasan atau di Siberia. Sayuran campuran kol, wortel dan bawang besar dengan bumbu ala kadarnya berupa bawang putih garam dan penyedap. Karena ada daun salam dan daun jeruk purut yang saya bawa sekalian di masukkan juga. Roti dan teh panas. Teh disana kental dan berupa campuran daun daun yang kaya vitamin c. Teh berasal dari Sri Lanka dan rerumputan dari Siberia sendiri. Rasanya pekat dengan aroma kuat, cocok dengan cuaca yang membeku. Di Jogja kalau sampai saya minum teh pada sore hari bakalan saya tak bisa tidur. H. R. JunepDi Siberia saya minum teh kental sekali, saya bisa tidur juga. Mungkin di Jogja saya banyak melihat orang momot meco sehingga susah tidur. Tadi sore kami jalan jalan ke perusahaan transport milik kawan saya dan saya menunggu di luar gedung. Saya mencoba jogging agak 15 menit dalam suhu minus 10 hidung dan tengorokan saya seperti diirisi. Saya segera kembali ke mobil dan sopir menyuruh saya masuk. Di dalam heater (pemanas) menyala. Sopir itu disiapkan untuk mengurus keperluan saya melihat kemanapun saya mau. Dia bernama Evgeny. Saya berkata: ” Kaput!”. Maksudnya saya remuk, atau saya pelot! Karena kedinginan. Sopir ini bisa sedikit bahasa Jerman karena dia Insyinyur penerbangan dan sedikit bahasa Perancis untuk lucu lucuan. Kami banyak berbincang dengan bahasa Jerman yang patah patah sebab saya sudah 20 tahun tidak memakainya dan sejak Sovyet runtuh dia tak pernah praktik. Hal itu penting untuk menambah hangatnya persahabatan. Diantara perbedaan yang tajam dalam berbagai hal setidaknya hati kami sama sama tulus dan ada kesamaan pengalaman hidup yaitu belajar bahasa Jerman. Bedanya saya otodidak dia belajar di Fak. Teknik . Selain itu kami juga sama sama orang ORBA. Dia warga Sovyet dan saya warga Orde Baru. Kami sama sama mentertawakan nasib manusia yang tiba tiba berubah dari sosialis ke kapitalis. Saya terharu namun saya bahagia sebab bagi saya apapun yang terjadi saya tak pernah putus asa. Mau berganti seribu kali atau setiap hari rejim yang berkuasa, saya dan keluarga saya meyakini bahwa penguasa atas hidup kami adalah Sang Maha Diktator yang kepadaNya kami berserah diri. Dimasa Orde Baru saya mendapat kebaikan dan sekarangpun saya mendapat kebaikan karena tunduk pada PENGUASA hidup kami. Kasihan kawan saya Evgeny ini, dia lebih muda dari saya setahun tapi rupanya setua ayah saya. Mungkin karena dia tak mengenal Sang Penguasa Tunggal kehidupan sehingga dia berputus asa dan mabukan.

Sesudah makan malam, ibu yang diseberang meja bercerita bahwa saya telah memberi tahu dia akan bahaya sesuatu. Saat kami masuk gerbang aprtemen, seorang lelaki keluar berpapsan dan saya kontak mata dengannya. Naluri saya mengatakan orang itu sangat jahat dan berbahaya. Saya langsung bilang pada ibu itu bahwa orang lelaki tadi bahaya. Dia bilang itu ayah si fulan, saya bilang saya tahu. Dia terkejut mendengar bahwa saya tahu siapa orang itu. Gampamg saja saya telah mengenal si fulan sejak beberpa hari dan rupanya sama dengan lelaki itu. Ib itu bilang memang dia berbahaya dan mengancam hidupnya, katanya. Rupanya lelaki itu adalah salah satu tokoh mafia Rusia lokalan. Tapi saya tidak takutlah. Mendengar cerita ibu itu yang agak berlebihan, salah seorang minta dibaca dirinya tentang seberapa baikkah dia. Saya bilang dengan tertawa bahwa dia sangat baik. Dia senang sekali. Bagaimana kita dapat katakan pada seorang wanita muda cantik dan banyak mengurus keperluan saya selama ini tentang hal tidak baik. Saya tidak mengupahnya sepserpun tapi dia selalu gembira menolong saya. Ibu itu dan yang lainnya serentak bertanya tentang bagaimana menghadapi penjahat itu. Saya ingta pernah bertemu kobra dan saya hantamkan batex (parang) ke depannya dia serta merta menyerang dan saya melompat. Saya mengerti bahwa kobra itu bereaksi atas bahaya yang saya buat. Saya berdiam diri, lalu dia pergi. Saya katakan bahwa kalau kalian bertemu ucapkan salam. Mereka mengatakan : ” Puih” bersama sama, tidak mau!. Kalau begitu tanamkan dalam hati kalian sesuatu fikiran baik. Jangan ada rasa benci. Dengan perasaan tenang, akan keluar ekpresi tenang juga dari wajah kalian. Hal itu akan mempengaruhinya dan dia akan segera berlalu. Akan tetapi sebaik baiknya setelah kalian berfikir tenang dan jernih, hindarkan bertemu dengannya sedapat mungkin. Mereka serempak menyetujui.

Akibat saya jogging di udara dingin itu saya tidur dengan mimpi buruk. Mimpi saya selalu sama dan datang pada saat kondisi fisik dan mental yang sama. Mimpi bagi saya bukan kembang tidur seperti anggapan umum. Mimpi saya adalah petunjuk nyata atas keadaan fisik dan rohani saya. Sehingga setelah mimpi saya secepatnya berdoa dan berserah diri karena sudah tahu apa yang akan terjadi. Alhamdulillah selalu terjawab semua doa saya dan halangan sering teratasi bersama datangnya pertolongan Allah. Sore ini saya bermimpi mandi di sungai, artinya saya akan sakit, itu sudah hafal, pokoknya kalau saya mandi sampai tersiram atau tenggelam, maka itu peringatan dini, macam akan ada tsunami. Cepat cepat bertobat dan berzikir terus, kalau perlu perintah orang rumah agar segera bersedekah lebih banyak lagi. Itu sesungguhnya adalah reaksi badan terhadap virus atau kelelahan fisik belaka. Waktu inax dan amax masih hidup kami suka bertelepati. Komunikasi lewat saluran satelit PT. Telekomunikasi yang dikuasai Pemilik Perusahaan Dunia Akhirat, yaitu Yang Maha Konglomerat. Dahulu telpon genggam belum ada, kalaupun ada cari nomer saja dibikin susah dan mahal. Inax dapat menghubungi saya lewat jalur Jalan Lurus dan bukan jalur orang yang dimurkai Allah. Kami berkomunikasi lancar dan saling memahami. Sekarang saya suka mencoba menghidupkan jalur itu dengan berlindung dari godaan was iwsaufi sudurinnas minaljinnatiwannas. Hati yang lapang bersama Yang Ahad, membuat saya dapat menyentuh hati kawan saya di manapun dibelahan bumi ini dan mereka mengirim surat, sms atau email balasan bahkan ada yang 5 tahun telah putus hubungan, maklum mereka tidak mengenal jalur siratalmustakim itu. Bukankah ada seribu jalan menuju Segara Anak?. 

Saat menulis ini saya dilapori bahwa si mafia menunggu di gerbang dan sempat cekcok dengan salah seorang kawan saya makan malam tadi. Saya merasakan sesuatu yang kurang baik, tapi di apartemen ada anjing besar jenis Labrador yang sangat sayang padaku. Dalam Islam anjing boleh dipelihara oleh petani, dan peternak untuk menjaga harta mereka. Landasan itu saya pakai menerima kawalan anjing ini demi keselamatan saya. Saya harus cuci tangan kalau sampai menyetuhnya dalam keadaan basah, dengan sertu’ sabun pencuci piring, sebab tanah tidak ada di apartemen. Anjing Labrador ini beratnya 45 kg lebih dan punya naluri kuat sebagai penyelamat manusia baik di darat maupun di air. Tiap hari dia mengajak saya bermain petak umpet. Saya sembunyikan mainannya dan saya perintah dia mencari, saat dia mencari saya bersembunyi di balik lemari dan dia bolak balik mencari saya ke semua ruangan dengan mainan yang berhasil diterkamnya , sampai saya keluar terbahak bahak karena dia mengendus endus didepan pintu.

Selama tinggal di dasan maupun di Jogja saya dan keluarga sering bertindak sebagai penolong orang bermasalah untuk mental recovery. Menenangkan perasaan orang yang galau. Kami menerima lelaki dan perempuan dari masalah impotensi dan ekonomi juga masalah spiritual. Kekuatan baik sangka dari komunitas membuat kami berhasil meyakinkan orang bahwa segalanya akan membaik kalau sudah sampai di rumah. Sesampai di rumahnya ada yang langsung telpon bahwa semua beres. Di Siberia ini entah bebodo mana yang memberitahu, tiba tiba orang orang jadi berkonsultasi pada saya mengenai benyak hal, terutama kesehatan dan masalah keluarga. Manusia selalu tidak beruntung bila tidak bersabar dan bersyukur. Pangkal mas
alahnya hanya itu. Orang orang yang saya temui ini adalah orang kaya dan hidup makmur dengan segala fasilitas yang hanya dinikmati kaum elit namun mereka masih mengeluhkan hal kecil yang merereka bikin sendiri. Berat badan, madat rokok, anak malas belajar dan anak yang melawan orangtua. Yang paling gawat adalah anak yang memaki maki ibunya. Ini sudah tak dapat ditolong lagi sebab dia tidak ada rasa hormat pada ibunya sendiri. Kemakmuran dan fasilitas sama berbahayanya dengan kemiskinan tanpa tuntunan agama. Di tempat ini anak dimanja saking sayangnya sehingga mereka tak berkembang sebagai anak yang mandiri. Masih kecil sudah penuh fasilitas. Sehingga malas sekolah apalagi belajar. Di dasan banyak orang tak sempat menyayangi anaknya karena ditinggal terbang dengan sapu untuk membabukan diri dan yang laki minggat dengan tombak untuk meruntuhkan tandan sawit yang berguguran bersama harkat dan martabatnya. Anak anak tumbuh tanpa tuntunan yang cukup dan kini mereka berfoya dengan uang kiriman, tidak mau mengaji atau sekolah. 

Saya melihat dunia ini penuh dengan lukisan yang mulai buram, memudar dan retak retak. Masih ada disana sini lukisan alam yang tentram. Lukisan wanita dengan senyuman yang berkilau dan gambar keceriaan anak anak berlarian dan kuda kuda yang trengginas. Tapi dipojok pojok dasan lukisan yang retak mulai miring dan segera runtuh. Saya menunggu seorang pepadu dan dedare yang mau menolong saya untuk merestaurasi lukisan tentang dasan yang wajah gadisnya retak dibibir, dikening dan dada penuh goresan luka. Lukisan kakek yang merenungkan keindahan alam Gumi Sasak terbelah dan gambar anak berlari hilang bagian kaki. Masihkan kita memikirkan seni merestaurasi diri ketika semua tidak lagi berfikir tentang nilai sebuah lukisan yang bernama manusia?

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas 

Hazairin R. JUNEP

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *