Shalat miring
May 8, 2010
Semeton
May 13, 2010

Sekolahan atau kesolahan?

Hazairin R. JunepSiberia [Sasak.Org] Di SMA Selong ada seorang guru multi bidang yang paling aneh dari semua guru, namanya Syafrudin Effendy alumni UGM entah tahun berapa. Dari kakak dan senior senior, saya mengetahui bahwa beliau itu disiplin dan sangat suka memberi soal essay beberapa butir saja. Soalnya singkat dan paling banyak 5 butir pertanyaan. Yang aneh adalah bahwa soal yang singkat itu harus dijawab dengan panjang lebar, kalau mungkin uraiannya satebal buku pelajaran bahasa Inggris itu!. Jawaban dengan kata kata dan kalimat ngawur tidak begitu penting tapi tulislah sebanyak mungkin yang engkau ketahui dan kalau bisa yang tidak engkau ketahuipun boleh juga, seolah demikian beliau inginkan. Badannya kecil tapi berwibawa, suatu hari kami ulangan mata pelajaran kesenian (drama/teater, puisi). Ada lima soal yang didiktekan. Saya dan teman teman menyiapakan contekan lengkap supaya bisa bertutur bukan sekedar menjawab soal. Teman teman bilang guru ini tidak bisa dikibuli dengan nyontek. Ada beberpa orang yang siap dengan contekan dengan kertas semacam pita digulung atau diremas remas. Saya menuliskan ringkasan atau garis besar pelajaran dalam selembar kartupos yang saya baca berulang ulang. Saya punya kartu kartu yang berisi ringkasan mata pelajaran hafalan disemua saku. Pada saat ulangan itu saya selipkan kartupos itu dibawah lembar kertas jawaban. Saya tidak pernah nyontek tapi karena itu adalah pertama kali ulangan dan harus menyusun makalah maka saya rasa perlulah nyontek. Gilanya Soekharso yang keponakan bupati R. Roesdi itu gugup melihat saya nyontek. Dia melihat saya terus sehingga pak guru jadi keki dan mendatangi saya lalu hup…kartupos saya diambil beserta soal dan jawaban ulangan!.

Saya bingung dalam sesaat lalu tenang dan menulis ulang semua pertanyaan berdasarkan ingatan dan menjawabnya berdasarkan ingtan pula. Setelah dibagikan hasil ulangan itu nilaiku adalah 5,5. Kata teman teman itu adalah nilai yang bagus sebab senior saja masih pada dapat 4!. Teman sekelas banyak yang dapat nilai dibawahku meskipun dibantu nyontek segala. Setelah lama berlalu saya menyadari bahwa guru yang satu ini telah melihat dengan mata, hati dan fikirannya mengenai kondis anak didiknya yang sangat rendah dalam kemampuan mengkomunikasikan ide. Bicara gak becus apalagi menulis. Akibatnya kelas bagai kuburan dan guru seperti orang gila berdeklmasi sendirian. Waktu L. Mustafa masuk mengajarkan matematika, kami meningalkannya tidur dibelakang. Pendeknya guru kami banyak yang jengkel karena muridnya dungu dan tidak komunikatif.

Setelah berjalan enam bulan, wali kelas meminta kami mengisi formulir untuk mengambil jurusan. Saya langsung menulis jurusan bahasa! Wali kelas tidak terima. Guru BP turun tangan dan saya tetap tidak mengubahnya. Akhirnya Pak Roesdi Ardjiman sang kepala sekolah memanggil dan menyuruh saya mengganti ke IPA, saya tidak mau. Dan saya duduk di kelas Bahasa yang terkenal tempat orang pandir itu!. Saya mula mula enak belajar tapi enam bulan kemudian jadi muntah karena saya telah menelan semua buku pelajaran pada minggu mingu pertama sekolah. Saya bahkan membaca buku petunujuk guru sekalian. Akibatnya saya gak minat belajar. Perpustakaan hanya gudang busuk disekolah kami sedangkan perpustakaan daerah kecil sekali dan dalam satu tahun saya telah membaca semua koleksi masing masing 2 kali, huh bosan. Semua ujian pada masa itu adalah pilihan ganda sebanyak 100 soal. Saya mengerjakan semua paling lama 10 menit bahkan ada yang hanya 5 menit dan salahnya sangat minim itupun karena kecepatan mencoret sehingga salah tempat. Benar benar tidak bermutu. Tapi kalau dikasi soal essay juga tidak becus menguraikan pokok perkara setebal buku puisi.

Guru dan murid sama sama menderita, maka setelah tamat SMA sayapun jadi guru SMA selang setahun. Mengingat bahwa guru saya kebanyakan berdeklamasi sendirian kayak orang gila maka saya membuat trobosan baru. Saya tidak pernah dapat kuliah pedagogik jadi pakai akal sehat saja. Saya pancing murid agar senang belajar dengan menyuruh yang malas dan tidak berminat keluar bermain atau makan makan dan boleh masuk lagi setelah puas. Dalam waktu singkat saya jadi guru favorit. Saya tidak bisa bikin satuan pelajaran tapi saya ikuti kurikulum dan isi buku sudah sesuai pula, nah mengajarlah saya sambil belajar. Waktu itu saya termasuk guru langka dan dapat tawaran di sekolah lain untuk mengajar. Saya mengajar 4 mata pelajaran sekaligus di SMA Masbagik, sehingga saya masuk pagi dan sore selama 6 hari dalam seminggu. Tentu metode saya salah dan teknik saya jeblok tapi bahwa murid enjoy itu sebuah prestasi juga.

Ketika di SMA I Mataram saya punya guru yang sangat egois, saya disalahkan terus dalam hal menulis, mungkin dia sangat menghayati teori dari kampusnya akibatnya nilai saya jelek terus sampai tamat karena memilih beda pendapat. Saya ingat waktu di UNRAM sempat saya bikin kelas jadi drama satu babak karena dialog dengan prof. Sahidu tapi akhirnya saya tinggal pergi. Kelak kemudian setelah masuk UNY (dahulu IKIP Jogjakarta) saya mengalami hal yang sama seperti di SMA, dosen seperti berdeklamasi sendiri dan kelas jadi kuburan lagi. Apaboleh buat sambil mau muntah saya terus ikuti kuliah kuliah bodoh itu daripada bengong. Dan akibatnya saya betul betul jadi dungu, apa yang saya ketahui?. Tidak ada! Saya bersyukur sempat bertemu dosen terbang yang punya reputasi internasioanl sehingga dapat berdialog panjang lebar dan saling merindukan untuk menyambung dan menyambung lagi perbincangan kami.

Ada seorang ibu dosen yang paling ditakuti di UNY yang waktu itu adalah PR II, kalau beliau masuk pucat pasilah mahasiswa, saya suka yang beginian, dan ternyata beliau menginginkan mahasiswa yang agresif sayapun mendapat A diakhir semester. Satu lagi dosen saya di ABA yang juga killer tapi kalau shalat nggak segan segan jadi jamaah dibelakang mahasiswanya yang paling dungu. Saya boleh masuk atau tidur dibelakang atau datang lima menit sebelum kuliah berakhir, nilai saya A diakhir semester. Dosen dosen itu tahu mahasiswanya tahu. Saya mengambil hikmah dari dosen dosen killer itu yang sama sekali bukan killer bagi saya. Entahlah!

Saya memutuskan kembali ke sekolah untuk membimbing anak bangsaku, ternyata pilhanku salah total, seharusnya aku diam dialmamater dan mengajar disana. Tapi juga itulah cara Allah memberiku bonus demi bonus dalam hidup ini. Aku tidak pernah tahu bagaimana guru mengevaluasi aku dalam belajar. Andainya ada guru dan dosen yang sungguh sungguh mengujiku dalam mata pelajaran, cukup satu saja mata pejaran atau mata kuliah niscaya aku tidak pernah lulus. Sebab sampai detik ini aku masih menggugat apa yang kalian sebut sebagai aksioma. Aku masih tidak kunjung faham isi pengajian Tuan Guru yang mengkategorikan manusia untung, rugi dan laknat berdasarkan atas daya juangnya membuat hal menjadi lebih baik hari ini dari kemarin dan hari esok yang jauh lebih baik dari hari ini. Namun faktanya sang Tuan Gurulah satu satunya yang berhasil, sedang jama’ahnya terus menjadi manusia laknat!. Bukankah para jamaah sama saja keadaan mereka hari ini dan kemarin?. Dan bukankah sebagian besar jamaah lebih buruk masa depannya dari hari ini?. Bukankah uang receh untuk membangun masa depannya sudah dilemparkan?. Evaluasi yang sesungguhnya adalah evalusai diri sebab kitalah seorang diri yang tahu seberapa jauh kita telah belajar dan seberapa kecilnya kita mengetahui tentang sesuatu.

Sekolah mungkin saja dapat memoles manusia menjadi solah tetapi itu karena memang si subjek didik mempunyai potensi yang sesuai dan sang guru menggosoknya dititik titik tertentu dimana kilaunya kurang terlihat. Selama ini sekolah menggosok apa saja dan dimana saja sehingga titik yang bersinar menjadi rusak sedang bagian yang berdebu tida
k kunjung bersih. Kesolahan adalah tujuan yang semua orang ingin meraihnya. Kesolahan adalah hasil sebuah proses yang direkayasa atau tumbuh alami. Yang pasti kesolahan adalah hasil gosokan, gesekan dan polesan yang dikerjakan bersama oleh tangan tangan masyarakat yang masih gigih mencitakan kemuliaan akhlak manusia. Semoga dalam waktu dekat anak bangsa ini dapat melewati evaluasi baik yang dilakukan sekolahan maupun oleh diri sendiri agar mencapai kesolahan pribadi tertinggi.
Maju dan Jayalah bangse Sasak!

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Glosarium
Kesolahan, solah = baik, luhur, berbudi pekerti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *