Sekolahan atau kesolahan?
May 12, 2010
Tiket Bodong
May 15, 2010

Semeton

“Jangan fitnah sahabat-sahabatku, bahkan jika salah satu dari kalian menghabiskan (untuk amal) emas setara dengan ukuran Gunung Uhud, dia tidak akan pernah mencapai tingkat mereka, bahkan tidak setengah jalan” [Al-Bukhari dan Muslim].

Hazairin R. JunepSiberia [Sasak.Org] Saya kutipkan hadist ini untuk mengingatkan kepada semua anak bangsa terutama yang di sasak.org, milist KS dan FB. KS agar dapat merenungkan, menghayati dan menjalankan apa yang tersirat dalam ucapan Rasulullah SAW itu. Anak bangsa ini telah carut marut berjalan sendiri sendiri sesuka hati. Masa masa ini masyarakat dikerjain dengan berbagai rekayasa untuk sebanyak mungkin memandang ke salah satu tokoh dan melupakan saingan lainnya dalam ajang pemilihan datu datuan alias datu ajax ajax. Kalau ada dua orang berjalan, bekerja, belajar atau beribadah lain hendaknya salah satu jadi pemimpin. Kalau ada tiga, empat, seratus, seribu hendaknya dari pemimpin pemimpin kelompok lebih kecil itu bersepakat memilih salah satu jadi pemimpin. Kalau terdapat banyak calon maka kita bermusyawarah. Masihkan orang mengingat hal sederhana ini?.

Kita adalah keluarga besar anak bangsa, kita adalah sahabat dalam lapang dan sempit oleh sebab itu kita harus saling menjaga. Jangankan memfitnah, bergibah saja, yaitu membicarakan sesuatu yang benar tentang salah satu anggota masayarakt kita, tidak dibenarkan dalam Agama Islam. Apalagi dengan menjebak saingan atau lawan politik. Bagaimana mungkin kita dapat menganggap orang yang menjebak saingannya dengan merekam adegan mesranya di hotel untuk menjatuhkan martabatnya sebagai orang berjiwa besar?. Kejahatan itu merusak rumah tangga korban, merusak silaturrahmi keluarga besar dan menghancurkan karakter diri orang dekat korban. Perbuatan menjebak seperti itu hanya dapat dilakukan manusia berjiwa kerdil dan tak pantas menjadi pemimpin.

Persaingan sebenarnya hanya bisa terjadi diantara kandidat yang sama sama kurang baik. Kalau ada kandidat yang baik akhlaknya, tinggi ilmunya dan banyak beramal sholeh maka dia terlepas dari konkurensi atau persaingan. Orang banyak akan melihat perilakunya sehari hari dan akan memilihnya sebagai pemimpin. Namun apa yang terjadi pada masyarakat yang merasa sudah pintar meskipun tidak pernah belajar?. Masyarakat digembleng untuk menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya. Nalar atau akal sehat tidak dapat digunakan sebab ada kelompok dengan vested intrest atau niat tersembunyi merekayasa dengan berbagai cara agar masyarakat jadi lemah dan bodoh selamanya. Isu isu agama sampai menak harus diangkat kemudian mengikat sekelompok orang untuk menjadi centeng yang siap mati untuk membela kepentingan sendiri. Kesesatan dilegalisir dengan membawa yel yel agama dan mengagung agungkan tokoh religius ataupun menaknya. Ketika semua sudah jatuh pada titik paling tidak berharga sebagai manusia maka tinggal ditiup dengan hipnotis dan uang untuk membeli nasi kaput, ngeloyorlah semua, apakah untuk membunuh, merusak, atau menfitnah.

Mengapa sebagian wilayah tidak kunjung maju?. Karena penguasaan atas sumber hidup dikuasai sebagian kecil penguasa yang dibeking nilai nilai yang diselewengkan selama ratusan tahun. Mulut kita sampai berbusa kalau bicara dengan sanak saudara dan handai tolan, kita sebut mereka sebagai semeton!. Se artinya satu maka di Lombok Selatan ada yang menyebut saix atau seix saja. Meton dari kata metu atau keluar. Jadi semeton artinya satu keluaran, satu pintu, satu jalan, satu asal!. Orang yang keluar dari pintu yang sama, melangkah dijalan yang sama dan berasal dari tempat yang sama adalah bagai diri sendiri. Kalau ada semeton yang tersakiti ibarat bagian badan sendiri yang terluka. Apa yang membuat anak bangsa ini besemeton?.

1. Papux dan Balox sama yaitu amax tegining dan inax teganang
Belum pernah saya temukan takepan yang paling kuno sekalipun yang menuliskan bahwa nenek moyang atau papux balox kita di sebut lalu fulan dan baix sekenox atau raden anux dan lale ape. Kita disatukan oleh adat dan nilai yang sama luhurnya diseantero gumi paer ini. Tidak ada yang lebih mulia dari yang lainnya. Belakangan setalah berakhirnya penjajahan orang asing (Jawa, Bali dan non nusantara) banyak sekali orang menulis takepan untuk meninggikan diri dengan mencari jalur silsilah keturunan yang sampai berani mengklaim kepada Nabi Adam seperti tertera dalam Babad Lombok itu. Apapun tujuannya hendaklah kita perlakukan sebagai usaha membuat kita lebih mawas diri dan kembali kepada adat dan nilai baik yang diwariskan nenek moyang bangsa kita.

2. Agama Islam sebagai jalan hidup
Sebelum masuknya agama Islam, seperti apakah anak bangse Sasak ini?. Di Jawa saja yang jauh lebih maju pada masa itu orang masih liar dan hidup dalam kegelapan. Memang ada pusat kerajaan dimana ada peradaban tapi sangat sempit pengaruhnya. Di Lombok yang kecil nenek moyang kita hidup di dasan dasan dengan pemimpin yang disebut keliang. Kemudian hari ada yang disebut sebagai banjar banjar artinya pedusunan. Kepala kepala dusun itulah yang memakai title arya. Karena mengikuti tradisi Hindu kuno yaitu kaum Arya. Meskipun hanya anak Sasak dipakasa juga mengaku Arya padahal tidak berkulit putih dan tidak bermata biru apalagi berambut pirang. Itu seperti anak kecil yang melihat serangga berbaris dan menyebut yang terbesar atau yang paling depan sebagai aryanya serangga. Islam memberi warna dalan kehidupan sebagai jalan hidup yang harus dilakoni. Dari agama Islamlah kita belajar pranata yang jauh lebih lengkap daripada yang tersedia dalam tradisi kita terdahulu.

Kita bersyukur punya adat dan agama, seperti dalam lagu kebangsaan Sasak disebutkan “Rahayu ing adat gama itu” maka hendaknya kita berpegang teguh pada kedua nilai yang memuliakan manusia dan menjauhkan diri dari kerusakan. Adat membuat kita besemeton sehingga kita saling menjaga satu dengan yang lain. Agama mengajarkan kita sebuah keyakinan atau akidah yang sangat kuat mencengkram di hati sanubari. Kita beriman dengan keyakinan penuh. Iman artinya kata kata, tindakan dan niat sekaligus!. Salah satu hilang maka tidak adalah iman itu!.Agama Islam membuat kita besar dalam jama’ah yang kokoh tak terpecahkan.

Sudah kita sebut orang semeton, sudah kita sanggupi menjaganya seolah ia adalah anggota badan sendiri. Sudah kita rangkul pula dalam jama’ah besar yang berikrar untuk berlomba dalam kebaikan. Mengapa kita bisa saksikan ketimpangan luar biasa yang terus terjadi di gumi paer. Orang yang kita anggap pemimpin saling fitnah dan jatuhkan. Mengapa kita tidak berjuang habis habisan menunjukkan betapa kita cinta semeton kita dan bahwa kita dapat melakukan pekerjaan dengan prestasi gemilang?. Bahwa kita sanggup mengorbankan diri demi menjaga dan memperjuangkan kemaslahatan anak bangsa sebagai semeton besar kita?.

Sekarang marilah kita bertanya pada diri masing masing, sanggupkah kita menjaga semeton kita agar tidak terjerumus dalam kenistaan. Janganlah kita halalkan segala cara hanya untuk mengejar jabatan sesaat. Mari kita mulai mengorbankan hal hal kecil dan kita beri jalan kepada anak bangsa agar menemukan jati dirinya dan kelak akan berguna bagi bangsa, Negara dan agamanya.
Rahayu Bangse Sasak!

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Glosarium :
Nasi kaput= nasi bungkus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *