Sepenggal Kisah Perjuangan ‘Pepadu’ Sasak di Ajang Internasional

Mengkriktisi Media Hiburan
June 21, 2009
Musim Ompol, Semua Menjadi Politisi!
June 21, 2009

Sepenggal Kisah Perjuangan ‘Pepadu’ Sasak di Ajang Internasional

Darwin-Australia [Sasak.Org] Rasanya kita patut untuk berbangga hati, melihat para pepadu bangsa sasak yang mampu berbicara di ajang nasional, regional, bahkan internasional. Kini, para pepadu sasak dari anak dasan itu telah berani tampil unjuk gigi, membuktikan kepada dunia, bahwa mereka punya potensi. Mereka ambil peran diberbagai bidang seperti pendidikan, pemerintahan, swasta, olah raga, hingga sebagai pahlawan devisa. Namun bagaimanakah sesungguhnya potret perjuangan anak dasan tersebut dalam mengharumkan nama bangsanya?. Berikut sepenggal kisah ‘pepadu olahraga sasak’ dalam cerita dan gambar.

Kontingen Indonesia pada acara pembukaan Arafura Games 2009 di Stadion Marrara, Darwin-Australia

Penggalan kisah perjuangan ‘Pepadu’ Sasak di bidang oleh raga ini saya peroleh ketika menjumpai semeton kita yang akan dan sedang berjuang mengharumkan nama bangsa, khususnya nama dasan, diajang bergengsi bertaraf internasional di bidang oleh raga, bernama Arafura Games, di Darwin, Australia, pada pertengahan Mei 2009 lalu.

Ya, para pepadu sasak itu termasuk diantara 210 atlet Indonesia yang ikut ambil bagian bersama 3.000 atlet lainnya, yang berasal lebih dari 60 negara. Arafura Games merupakan ajang dua tahun sekali yang melibatkan daerah-daerah dari berbagai penjuru dunia, diantaranya tuan rumah Australia, Amerika, Asia, Afrika hingga Eropa.

Kisah pilu para pepadu sasak ini mulai mengalir, ketika saya tiba di bandara internasional Darwin, untuk memenuhi undangan Konsulat Republik Indonesia di Darwin, Australia, Harbangan Napitupulu. Melalui seorang staf konsulat yang menjemput saya di bandara, kisah ‘pilu’perjuangan para pepadu sasak itu pun mulai terkuak.

“Maaf pak terlambat, sibuk ngurus kontingen kita, banyak yang masih bermasalah. Padahal acara pembukaannya senbentar lagi di mulai”, jelas Abdul Hamid staf Konsulat Darwin yang datang menjemput. Masih menurut staf konsulat tersebut, bahwa pada malam sebelumnya mereka kedatangan enam orang kontingen asal Lombok, yang sempat ‘bermasalah’ di bandara. Keenam kontingen asal Lombok tersebut merupakan ofisial dan atlet volly pantai. Mereka tiba sekitar pukul 11 malam di bandara setempat, namun sempat menunggu lama, karena mereka tidak terdaftar sebagai ‘tamu’ panitia Arafura Games Australia, yang berlangsung selama sepekan lebih dari tgl 8 hingga 17 Mei 2009.

Menurut pengakuan para pepadu sasak tersebut, mereka sebenarnya sudah mendaftar secara online, namun setelah di cross check dengan database panitia nama-nama mereka tidak ada sama sekali. Pihak panitia penyelenggara Arafura Games kemudian menghubungi Konsulat RI Darwin, selaku perwakilan pemerintah Indonesia di negara bagian paling utara wilayah Australia tersebut.

“Kita sempat kelabakan pak, soalnya nama mereka belum terdaftar di panitia. Kita juga sudah mengubungi induk organisasi di daerah asalnya tapi mereka malah mengaku tidak tahu. Inilah yang kita sayangkan, mengapa mereka tidak koordinasi dulu dengan kita selaku wakil pemerintah Indonesia di sini. Kalau mereka memberitahu sebelumnya, kan kita juga bisa bantu untuk mengecek ulang nama mereka di pantitia sebelum mereka datang,” keluhnya, sambil kami bergegas menuju tempat parkir.

Setelah negosiasi yang panjang akhirnya panitia bersedia mengangkut mereka namun tidak langsung di bawa ke hotel, karena mereka belum terdaftar sebagai peserta resmi dalam ajang olah raga bergengsi dua tahunan tersebut. Para pepadu sasak itupun terpaksa diinapkan di kantor Kunsulat RI Darwin.

“Alhamdulillah pak, tadi siang mereka sudah terdaftar secara resmi. Mereka juga sudah dipindahkan ke hotel. Beruntung cabang olehraga volly pantai yang mereka ikuti belum mulai tanding pak, sehingga pamnitia masih membolehkan untuk daftar. Kemarin baru cabang memanah dan renang yang sudah dimulai”, jelasnya sambil mengemudikan mobil saat mengantarkan saya menuju kantor Konsulat RI Darwin di 20 Harry Chan Avenue Darwin, Northern Territory, Australia.

Namun setibanya di kantor Konsulat RI Darwin, saya kembali teringat dengan para pepadu kita yang akan berjuang mengharumkan nama bangsa dan juga nama dasan itu. “Bagaimana mereka bisa berjuang secara optimal, kalau diawal kedatangan mereka saja sudah bermasalah?”, tanya saya dalam hati, sambil melihat-lihat ruangan bekas tempat mereka menginap seperti yang diceritakan oleh staf konsulat tersebut.

Masya-Allah, saya sempat miris melihat ruangan bekas tempat ‘para pepadu kita’ menginap. Sebuah ruang aula yang biasa digunakan untuk latihan gamelan oleh warga asing yang ingin belajar budaya Indonesia. Hanya beberapa bagian lantai yang berkeramik itu dilapisi karpet. Sudah bisa ditebak, tempat tidur para pepadu dasan kita itu bisa di bilang sangat tidak layak, sebagian tidur di sofa, sebagian di atas meja dan sebagaian lagi entah mereka mungkin tidak tidur hingga pagi harinya.

Kisah pilu inipun ternyata tidak hanya di alami para pepadu sasak, karena pada malam berikutnya giliran kontingen asal DKI Jakarta yang mengalami nasib yang sama dan terpaksa juga di inapkan di tempat yang sama yakni di kantor Konsulat RI Darwin.  Pada Arafura Games ke-18 kali ini Indonesia diperkuat atlet dari daerah Papua, Papua Barat, Maluku, Lombok NTB, Bali, DKI Jakarta dan propinsi Aceh.

  

Para Pepadu Sasak saat melintas di panggung utama pada acara pembukaan Arafura Games di stadion Marrara Darwin

Sebelum bertanding di cabang oleh raga volley pantai, para pepadu sasak itu pun mendapat kesempatan untuk ikut tampil pada parade pembukaan Arafura Games 2009 yang berlangsung meriah di stadion utama Marrara Darwin. Disaksikan ribuan pasang mata yang memadati stadion Marrara, mereka melintas di depan panggung utama bersama 210an atlet Indonesia lainnya.

Namun sayang, mereka tampak tidak bersemangat seperti rekan mereka dari kontingen daerah lainnya. Kontingen dari Papua Barat dan Aceh misalnya terlihat lebih bersemangat saat melintasi panggung utama, maklum selain jumlah mereka lebih banyak, mereka juga di kawal langsung oleh pejabat daerahnya seperti Gubernur Papua Barat dan Wakil Gubernur Aceh, beserta jajaran muspida dan dinas terkait lainnya.

Coba lihat ekspresi para pepadu kita saat melintas di depan ribuan penonton yang menyambut kehadiran mereka. Lihat pula didepan mereka, tepat diatas kepala mereka, tertulis dengan jelas nama dasan kita “Lombok”. Tapi mengapa para para pepadu sasak itu justru ‘membuang muka’ dari penonton yang mengelu-elukan kehadiran mereka?.  Mungkinkah mereka malu menghadapi ribuan penonton karena jumlah mereka sedikit?, apakah mereka gentar karena dukungan bagi mereka sedikit?,  ataukah mereka takut karena perhatian dan bekal yang mereka bawa sedikit?. Entahlah hanya mereka dan Tuhan lah yang tahu, alasan mengapa mereka harus membuang muka.

Ternyata keprihatinan yang dialami para pepadu kita tidak hanya sampai disitu. Dua hari setelah acara pembukaan saya sempat menemui dua diantara atlet kita sedang makan di rumah makan padang, satu-satunya rumah makan khas Indonesia yang ada di pusat kota Darwin. Semula saya mengira mereka hanya ingin sekedar mencicipi masakan Indo
nesia di negeri orang, namun dari pengakuannya, mereka hampir setiap hari keluar hotel dan mencari makan di tempat itu. Yang patut menjadi pertanyaan kita, mengapa mereka harus keluar hotel untuk mencari makan?, apakah karena masakan hotel tempat mereka menginap tidak sesuai dengan lidah mereka?, ataukan harga makanan tersebut yang tidak sesuai dengan kantong mereka?

Ya, sebagai atlet mereka mestinya lebih layak untuk makan di hotel dengan gizi lebih terjamin, mereka juga seyogyanya harus menjaga pola makan untuk menjamin kesetabilan stamina mereka, agar dapat tampil optimal saat bertanding. Namun kenyataannya itulah yang terjadi, itulah yang mereka alami, semua serba keterbatasan. Sayapun hanya sempat menyatakan dukungan kepada mereka. “Selamat berjuang, tunjukkan meski jumlah kita sedikit kita juga bisa menang, doa kami dari seluruh masyarakat Lombok di Indonesia”,  ujar saya meyakinkan mereka saat berpisah di warung makan tersebut.

 

Ribuan penonton  mengelu-elukan kehadiran kontingen Indonesia

Saya pun tidak bisa ikut mengawal langsung perjuangan para pepadu kita di ajang internasional tersebut hingga akhir. Karena hingga hari ketiga pelaksanaan Arafura Games, cabang olah raga volley pantai yang mereka ikuti belum di gelar. Berhubung setelah tiga hari saya kembali melanjutkan perjalanan, maka dukungan terhadap mereka tidak bisa secara langsung di arena pertandingan, melainkan hanya bisa melalui doa. Dan Alhamdulillah, menurut kabar dari Konsulat RI di Darwin, akhirnya para pepadu sasak dengan segala keterbatasannya itu, masih mampu menyumbangkan medali emas. Berkat perjuangan keras mereka, bendera merah putih akhirnya berkibar di langit Darwin dan Lagu kebangsaan Indonesia Raya pun dikumandangkan.

Ya patut diacungi jempol, meski dengan jumlah yang terbatas, modal yang terbatas, dan mungkin juga dukungan terhadap mereka terbatas, namun ternyata semua itu tidak membatasi apalagi mengendorkan semangat juang mereka untuk tampil sebagai pemenang. Bahkan mereka turut menyumbangkan medali emas bagi Bangsa Indonesia dan mengantarkan Indonesia di posisi ke tujuh dengan total perolehan medali masing-masing 14 emas, 17 perak dan 17 perunggu. Sementara itu tuan rumah Australia memastikan diri keluar sebagai juara umum dengan perolehan medali 285 emas, 245 perak dan 223 perunggu, menyurusul Malaysia dengan medali 29 emas, 10 perak dan 16 perunggu, New Caledonia 25 emas, 31 perak dan 38 perunggu, serta New Zealand 24 emas , 36 perak dan 21 perunggu. Itulah sepenggal kisah perjuangan para pepadu sasak di ajang internasional bernama Arafura Games, Australia. Semoga kisah pilu tersebut hanya menjadi bagian kecil dari kisah perjuangan para pepadu kita, dan semoga hal itu tidak terulang lagi kelak di kemudian hari.

 

(catatan perjalanan Amanzaky) Sasak Diaspora Australia

1 Comment

  1. semeton lombok jember says:

    semangat terus semeton lombok
    buktikan bahwa lombok bukan hanya indah pada pariwisatanya
    tetapi juga mempunyai kemampuan untuk bersaing didunia olahraga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *