1 Mei
May 5, 2010
Sekolahan atau kesolahan?
May 12, 2010

Shalat miring

Hazairin R. JunepSiberia [Sasak.Org] Waktu kecil kami wajib shalat berjamaah di berugax yang disulap jadi santren jama’ah anak anak sekitar 15 an dan dipisah dari jama’ah dewasa. Masa itu sudah ada yang stel radio pada jam tabu. Mula mula mungkin tidak sengaja tapi lambat laun tidak lagi ada tabu tabu soal waktu. Kalau sedang shalat dan kedengaran musik melayu saya suka terusik, maka badanpun jadi goyang goyang, teman sebelah mulai geli dan yang dibelakang menahan napas agar tidak tertawa. Saya sendirilah yang tertawa duluan ketika dua atau tiga orang meledak tertawa maka tak tanggung tanggung imam juga meledak dan bubarlah jamaah kami. Shalat diulangi lagi sambil menahan napas agar jangan sampai tawa kami menggoyang berugax, bisa bisa rebah kearah kiblat berugax tua itu kalau semua tertawa. Bukan Cuma gara gara radio dan goyang ala dombret tapi kalau ada anak yang kecil kentut atau minta ijin keluar kencing pada imam shalatpun bisa amburadul.

Ustad selalu bilang tegakkanlah shalat!. Lain waktu dia berkata dengan menekankan suara ” Dirikanlah shalat!”. Shalat adalah tiang agama Islam. Agama Islam adalah sebuah system. Agama Islam berperan sebagai Negara. Agama Islam berdiri bagai institusi dengan disiplin militer. Agama Islam adalah universitas. Agama Islam adalah Rumah tangga. Agama Islam adalah konstitusi. Agama Islam adalah pasar. Agama Islam adalah Alam semesta. Agama Islam adalah udara. Agama Islam adalah air. Dan sebutlah apa yang engakau mau sebut maka ia adalah agama Islam itu sendiri.

Saya bercengkrama dengan pemuda pemudi tanggung pada hari libur dalam rangka merayakan hari pembebasan atas pertempuran melawan Jerman 65 tahun lalu. Salah seorang pemudi berbicara dengan pemuda lain lewat telepon genggamnya. Mereka bercakap sampai berjam jam tapi tetap asyik. Ketika dia mulai tertawa tentang sesuatu, dia bilang, ” kamu gila ya!. Dasar allahu akbar!”. Tahun lalu saya ditanya seorang pemuda mengapa muslim teriak Allahu Akbar saat menyerang. Saya jelaskan apa artinya namun sudah terlanjur dimakan fitnah dan melihat fakta bahwa muslim terlalu banyak takbir terutama dalam peperangan atau tindakan perlawanan terhadap aggressor difahami sebagai kode untuk membunuh orang. Celakanya berita yang tidak seimbang dari dua belah fihak menyudutkan muslim dalam segala hal. Dimana mana kita bisa dengan mudah mendengar dan membaca bahwa tidak semua muslim adalah terrorist tapi semua terrorist adalah muslim. Itu sangat tidak benar. Di USA, Uni Eropah dan Jepang atau Amerika Latin ada banyak terrorist non muslim yang sengaja tidak diekspose atau tidak mau menyebutnya terorist tapi pemberontak atau extremist. Di Eropah termasuk di Rusia ini allahu akbar itu dimaknakan dengan sakit jiwa.

Sesungguhnya shalatku hidupku dan matiku hanya untuk Allah. Demikian kita berkata dalam setiap shalat. Kita bertakbir terus menerus sampai kita lupa ada tempat dimana kita tak sepantasnya bertakbir. Karena bertakbir dilakukan sambil mabuk, menipu jamaah dan merusak dacin/ timbangan. Karena bertakbir dilakukan sepanjang hari sambil menunda upah buruh sampai tetes keringatnya menjadi tetes darah. Karena bertakbir kita gunakan untuk memenangkan pemilu. Karena bertakbir kita pergunakan sebagai yel yel nonton sepak bola. Karena takbir kita pakai menyerang lawan debat dan banyak lagi takbir takbir yang tidak sesuai waktu dan tempatnya. Kini takbir tak lagi menggetarkan hati ummat. Celakalah orang yang shalat tetapi lalai. Sekarang orang tidak saja lalai tapi hatinya tak lagi dapat membedakan apa apa sebab Allah saja tak dapat menyebabkan hatinya bergerak. Anak bangsa ini telah dituntun oleh kesenangan sesaat dan mengorbankan kenikmatan sesungguhnya.

Sewaktu sekolah kami rajin shalat sesuai tuntunan ustad kami harus khusuk. Khusuk adalah konsentrasi penuh ikhlas tidak memikirkan yang lain kecuali Allah. Terus terang sampai sekarang saya tidak bisa menghentikan fikiran kearah lain saat shalat. Saya tidak berhasil membuat fikiran saya kumpul dalam satu fokus. Pernah saya melakukan shalat secepat rusa lari. Bacaan komat kamit dan selesai. Alasannya adalah agar saya hanya konsentrasi pada bacaan sholat. Meskipun konsentrasi penuh pada bacaan tetap saja fikiran terpecah ke soal PR dan RP. Pekerjaan rumah atau tugas mengerjakan soal dan menulis makalah serta soal Rupiah tak henti bergelayut di angan. Lama lama saya berfikir bahwa saya harus relakan saja fikiran ini pecah yang penting saya istikomah mendedikasikan waktu shalat untuk bercengkrama dengan Kekasihku. Kalau kekasihku yang lembut dan cantik tidak bis menebak isi fikranku sehingga aku bisa menipunya, tapi Kekasihku yang Satu Ini dapat mengetahui hal paling tersembunyi dalam lubuk hatiku yang terdalam baik yang sudah, sedang dan akan kutimbulkan atas iziNya. Apakah ada rahasia diantara aku dan Rabbku?. Tidak ada, sekali lagi tidak ada. Jadi mengapa aku takut menghadap dengan segala macam fikiran berkecamuk dalam angan dan otakku?. Kalau aku berjalan menelusuri jalan setapak menuju RumaNya, aku bisa saja menengok kiri kanan dan atas bawah serta belakang, tapi aku terus berjalan menuju ke depan tanpa peduli dengan apa yang aku lihat, aku dengar dan aku rasakan sepanjang jalan itu. Khusuk bagiku adalah kebulatan tekad seperti halnya aku tak boleh bergerak sembarangan lebih dari 3 kali dalam shalat. Tekadlah yang membuat badan tahan hanya bergerak disiplin sesuai tuntunan ustad kami.

Mendirikan shalat sesungguhnya adalah mendirikan disiplin dalam kehidupan yang meliputi semua persoalan. Gerakan shalat dan ucapan atau mantra yang kita lantunkan sepanjang waktu adalah gerakan disiplin diri yang mengokohkan karakter kita menjadi manusia tangguh dalam menghadapi segala tantangan dan membuat kita tunduk dalam kerendahan hati dihadapan kuasaNYA. Kumandang takbir dari tempat terbit matahari sampai di tempat terbenamnya sambung menyambung selama 24 jam. Berapakah banyaknya hati yang bergetar saat mendengar kuamandang, ” lebih baik shalat dari pada tidur”. Orang yang shalat bisa sambil tidur tidur atau duduk duduk tetapi orang yang tidur tidak dapat shalat dan bahkan tak dapat berbuat apa apa. Orang yang shalat adalah orang yang siaga, terjaga penuh 24 jam karena hubungan dengan Sang Penjaga tersambung dalam komunikasi getaran getaran hati.

Oleh karena Shalat adalah usaha penegakan disiplin maka ia harus dilakukan dengan menyelesaikan semua hal sesuai prosedur dan skala prioritas. Kalau sibuk shalat dapat disingkat atau digabung. Jangan sampai kita shalat dalam keadaan terbebani oleh sesuatu hal yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. Bangsa yang sudah maju umumnya memiliki disiplin kuat. Mereka tidak punya shalat tapi punya yang lain. Ada ideologi ada ajaran moral atau filosofi tersendiri yang mereka jalankan dengan khusuk. Kalau mereka sudah memasang niat mereka akan terus melaju dengan mengerahkan segala tenaga dan upaya hingga mencapai cita cita. Mereka tetap tegar dalam hujan, badai, salju ataupun panas. Kemakmuran mereka capai jauh lebih baik dari kita yang bertakbir 24 jam. Mereka membaca mantra dengan cara berbeda dan mantra itu menempel dioatak dan hatinya sehingga menjadi warna dalam kehidupan mereka, entah mereka kapitalist, konfusiunist, existensialist, socialist dsb. Ketika mereka katakana tegak artinya adalah tegak dan ketika mereka bersepakat mereka lakukan bersama sama. Itulah buah dari kekhusukan mereka dalam menegakkan disiplin diri.

Anak anak mungkin saja masih tertawa saat shalat berjama’ah tetapi hendaknya dipapah terus agar sholatnya tidak miring sampai tua. Orang dewasa yang shalatnya miring pada saat ini mengisi kursi kursi kekuasaan politis, religius dan kultural akibatnya korupsi meraja lela, penyakit bermalas malasan dan suka dikasihani merasu
ki hati kecil anak bangsa. Takbir hanya jadi yel yel pemenangan pemilu dan acara olah raga. Tuan guru membanggakan besarnya gedung gedung dan jumlah jama’ah tapi tak sanggup membuat mereka disiplin yang khusuk. Para pejabat hanya bangga membangun sesuatu dalam rangka agar mendapat penghargaan dari pemerintah pusat. Aneh sekali bahwa ketika pejabat dipilih dan diangkat oleh rakyat langsung mereka masih bisa menipu dan bersekongkol dengan pejabat diatas untuk kepentingan institusi an sih. Bila ini terus terjadi maka rakyat harus membuat mereka shalat dengan tegak dan tegap agar berdiri dibumi yang dipijak.

Marilah kita kembalikan takbir kita kepada kehalusan budi agar bila kita lantunkan dengan lembut akan keluarlah energy yang menggetarkan hati anak anak generasi baru yang mebuatnya tegak mendirikan shalat dan yang tua dan shalatnnya miring masih sempat kembali ke barisan shaf diantara jama’ah yang saling menopang dengan kaki dan pundak yang kokoh. Rahayu Bangse Sasak!

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *