Thaharah lagi, Thaharah lagi

Orang Lombok Versi Orang Malaysia
December 26, 2012
Hati Hati Hadits ASPAL
December 29, 2012

Thaharah lagi, Thaharah lagi

Siapa yang tidak mengenal terminologi thaharah?

[Sasak.Org] Sebagian besar umat Islam pasti tidak asing dengan istilah ini apalagi yang biasa membaca buku-buku fiqh. Ibarat sebuah mobil, thaharah merupakan salah satu spare part asas agar mobil itu bisa bergerak mulus. Nah dalam ilmu fiqh juga demikian. Thaharah merupakan salah satu spare part yang paling penting agar pembahasan ilmu fiqh itu bisa bergerak mulus dari persoalan ibadah, muamalat, munakahat dan jinayat.
So…what’s going wrong with Taharah? (ciee….speaking kata orang Melayu…)

Jadi ceritanya begini. Malam Minggu kemarin saya diajak teman shalat berjamaah di salah satu masjid. Biasanya kalau malam minggu tiap-tiap masjid atau mushalla selalu mengadakan ceramah agama. Dan yang bikin menarik hati untuk hadir dalam ceramah-ceramah agama di Malaysia ini karena setiap selesai shalat Isya’ pasti ada acara makan-makan. Jadi saya pun mengiyakan ajakan teman itu tadi. Lumayan…menyelam sambil minum air..(Dengar ceramah sambil niat makan-makan… J)

Singkat cerita. Setelah shalat Maghrib ceramah pun dimulai. Saya perhatikan ke sekeliling yang hadir mayoritas orang-orang pensiunan alias 60 tahun ke atas. Oleh karena ini adalah ceramah pertama bertema fiqh, maka pak ustad pun memulakan pembahasan dengan bab thaharah. Kitab yang dibawa adalah al-Majmu’ fi syarh al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi.

Sepanjang setengah jam ustad ini berbicara hampir tidak ada suara-suara bising. Entah karena para hadirinnya mengantuk atau karena memang suntuk saya tidak tahu. Tapi memang suasananya sangat hening. Namun di tengah-tengah keheningan itu tiba-tiba hadirin dikagetkan oleh seorang pendengar yang mengangkat tangan meminta bicara. Pak ustad pun membenarkan. Ketika si penanya itu mulai bicara, saya melongo dan hampir tidak percaya dengan apa yang dia sampaikan. Para hadirin juga terlihat kaget. Kurang lebih dia bilang begini :

“Kenapa setiap kali mengaji fiqh yang dibahas selalu thaharah dan thaharah… Tidak adakah pembahasan lain selain ini. Coba ustad perhatikan orang-orang yang hadir di sini, mayoritas warga emas (50 tahun ke atas). Mereka sudah tidak butuh lagi bab Thaharah, mereka sudah tidak perlukan lagi mandi junub…sudah gak sanggup mereka…!”

Semua orang terpegun. Sang ustad pun sejenak terdiam. Kemudian menjawab singkat “pengajian ini hanya untuk mereka-mereka yang mau mendengar. Bagi yang tidak mau, silakan di luar…”
Singkat cerita, ceramahpun usai. Setelah shalat Isya’ tibalah acara yang sangat saya nanti-nantikan yaitu acara makan-makan. Sudah bisa ditebak, pasti topik pembicaraan dalam acara makan-makan ini seputar pernyataan si fulan itu tadi. Dan benar, sebagian besar hadirin menghujat dan menganggap pernyataan si fulan itu tidak pantas apalagi hal itu disampaikan di depan publik. Mereka mengatakan itu salah dari segi akhlak dan budaya orang-orang Melayu.

Nah hal yang ingin saya tegaskan dalam tulisan ini sebenarnya bukan mengenai budaya atau adab seorang murid kepada guru seperti yang menjadi fokus penilaian para hadirin yang hadir di situ. Saya lebih memikirkan tentang substansi dari apa yang disampaikan oleh si fulan itu tadi. Inilah yang menjadi materi diskusi kami berdua sepanjang perjalanan pulang dari masjid menuju rumah.
Saya setuju dengan pertanyaan yang disampaikan si fulan itu tadi. Tapi bukan bermakna saya menolak tema pembahasan yang disampaikan oleh si penceramah. Di satu sisi pembahasan-pembahasan mengenai ilmu fiqh dalam setiap pengajian baik itu di Malaysia atau di Lombok hampir tidak pernah lepas dari membicarakan masalah najis, air mutlak, air muta’mal, wudhu, mandi dan persoalan-persoalan lain seputar thaharah. Sekilas persoalan-persoalan ini nampak klasik, jadoel, lawas dan tidak up to date sehingga kerap tidak diminati oleh pendengar terutama kalangan muda. Tapi di sisi lain ternyata masih banyak di antara mereka yang tidak mengamalkan (entah karena tidak tahu atau tidak mau…) konsep thaharah yang selama ini diaggap lawas dan jadoel. Ini menjadi suatu dilemma bagi para penceramah. Dibahas mati emak…tidak dibahas mati ayah…

Di mana letak persoalannya?

Pembahasan ilmu fiqh dari sejak zaman kegemilangan Islam, sekarang dan sampai kapanpun tetap akan seperti itu. Ibadah, muamalah, munakahah dan jinayah adalah urutan baku yang tidak boleh kebalik kebelah. Persoalannya, sudut pandang sebagian umat Islam terhadap suatu pembahasan (thaharah misalnya) sering kali sempit dan disempitkan akhirnya menjadi jumud. Saya bilang ke teman saya, persepsi mengenai thaharah ini tergantung bagaimana warna otak kita. Kalau otak kita warnanya kebiru-biruan, maka thaharah itu hanya dipandang sebatas jimak, mandi junub, mani, madzi, dan haidh. Tidak jauh dari persoalan selangkangan. Tapi kalau dipandang oleh otak yang berwarna jernih, maka thaharah akan dilihat sebagai sebuah pembahasan yang amat sangat luas tidak hanya mencakup persoalan najis, air mutlak, wudhu. Tapi juga meliputi semua aspek kehidupan sehari-hari seperti membuang sampah sembarangan, pergaulan bebas, pola hidup jorok, merokok dalam masjid atau mushalla. Ini semua bagian dari thaharah yang mungkin belum diamalkan sepenuhnya oleh umat Islam.

Jadi sebenarnya thaharah itu tidak sesempit yang digambarkan. Hanya tergantung bagaimana kita memandang dan bagaimana si penceramah menyampaikan. Itulah sebabnya pembahasan mengenai thaharah ini sering kali berbeda tergantung sudut pandang. Pembahasan thaharah dalam kitab Sairus salikin tidak sama dengan pembahasan thaharah dalam Kifayatul akhyar. Karena Syekh Abdus Samad al-Falembangi (penulis sairus salikin) membahasnya dari sudut pandang tasawuf, sedangkan syekh Muhammad al-Husaini (pengarang kifayatul Akhyar) memandangnya dari sudut fiqh.

Ini tantangan baru yang harus dihadapi oleh para ustad dan Tuan Guru kita. Tantangan untuk selalu meng-up grade pola pembahasan tema-tema pengajian yang dianggap tidak up to date oleh masyarakat. Tantangan untuk selalu peka dengan isu-isu terkini agar bisa mengimbangi dinamika umat Islam yang terus mengalir…

Zaki Abdillah –KLU-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *