Semeton
May 13, 2010
“Ngarat Sampi” dan Arti Kesejahteraan Bagi Masyarakat Sasak
May 25, 2010

Tiket Bodong

Hazairin R. JunepSiberia [Sasak.Org] Perjalanan saya dari Yogyakarta sampai Bangkok membuat pusing kepala karena pesawatnya baru gres. Bau plastik kursi dan cat yang masih berkilau sangat mengganggu urat saraf saya sebab saya alergi dengan bau keras. Parfum tertentu dapat membuat saya mabuk apalagi bau bahan kimia.Saya duduk di kursi 14 yang merupakan emergency exit atau pintu darurat, itu adalah kursi hot booking bersama deretan kursi 1 sampai 5 didepan. Saya leluasa duduk selonjor karena kaki saya panjang, kalau dikursi biasa saya akan banyak keluar masuk toilet sekedar bergerak agar kaki tidak terlipat lama. Di kursi itu siapapun yang duduk harus bertangung jawab membuka pintu darurat bila terjadi kecelakaan. Sebagai anggota pramuka zaman laex saya sudah hafal. Saya cukup bilang pada pramugari, siap!

Pesawat ke Bangkok jenisnya sama dengan yang tadi saya naiki dari Jogja, air asia memborong jenis A 320- 200 karena nyaman. Group ini menjual tarif murah karena itu kita harus membayar semua yang kita makan dan minum. Bagusnya harganya tidak mahal. Sejak di rumah saya ada perasaan kurang mantap dalam petualngan ini, tapi saya tak kunjung menemukan persoalan. Di Soekarno Hatta hanya cobek batu yang saya bawa dibagasi harus dibuang karena malas mengurus ke depan lagi. Kalau mau dimasukkan bagasi harus ke tempat chek in lagi. Saya biarkan saja cobek itu jadi tambahan monumen di pojok bandara kalau pekerjanya ada yang berjiwa seni. Bukankah cobek dan penguleknya adalah simbol dari Linggam dan Yoni atau Yin dan Yang?.

Sampai di bandara Svarnabhumi yang artinya Negeri Emas, saya harus berjalan ke imigrasi sejauh 500 meter. Disepanjang jalan itu tersedia beberapa toilet dan pancuran kecil air minum. Saya minum setelah setengah jalan. Ini hebat sekali, para musafir dan pekerja bandara tak perlu repot dengan air minum, bisa minum dan mengisi botol sendiri. Kesadaran akan pentingnya pariwisata luar biasa di Thailand ini. Ini adalah ketiga kali saya masuk ke Bangkok dan saya masih terus dibuat heran. Pemeriksaan hanya dua menit kurang dan kalau ramai bisa 10 menitan. Harga makanan lebih murah daripada di Jakarta. Taksi dengan jarak tempuh 40 menit hanya 155 Bath lewat jalan toll tambah 30 bath.

Saya tinggal di hotel melati 3 yang lebih bagus dari kita punya. Shower dan bath tub sama dengan hotel bintang 4 di Yogyakarta. Sarapan pagi dengan bebek bumbu kari pedas, kira kira sama dengan pelalah kita dengan nasi tim dan sayur mayur porsi besar plus teh panas seharga 105 bath. Pesawat saya berikutnya adalah North Winds yang terbang ke Irkutsk – Siberia. Saya akan terbang jam 15.00 dan jam 11.30 saya berangkat ke bandara. Jam 13.00 saya sudah stand by diurutan pertama antrean. Tak sampai 15 menit saya melihat gerombolan penumpang datang dan langsung antri membuat empat baris panjang. Manager lokal datang dan memeriksa paspor saya lalu terkejut. Saya tanggapi dingin, ternyata dia bersuara tinggi, mengatakan bahwa saya tidak boleh naik pesawat karena ini pesawat charter. Saya jelaskan bahwa tiket saya elektronik dan mustahil ada kesalahan. Dia berkeras menolak dan saya disarankan menghubungi travel agent tempat membeli tiket. Saya menghubungi HP tapi tidak ada jawaban, kantorpun tutup karena hari minggu. Saya mengubungi teman di Rusia, HP juga tidak aktif karena weekend. Setelah capek akhir nyambung juga dan mereka panik. Sementara saya putuskan menunggu sampai jam 15.00, sang menager bolak balik ke saya dan akhirnya dia bilang saya bisa terbang kalau membayar 20.000 dolar amrik. Saya tentu saja ngotot bahwa kesalahan perusahaannya menjual tiket ke saya meskipun lewat agen. Dia tidak bergeming dan pada saat itu jam 14.30 saya menerima telpon dari teman yang mengatakan bahwa sedang diusahakan tiket untuk pesawat lain yg terbang jam 18.20. Itu adalah peswat yang saya pakai datang dan pulang tahun lalu. Jam 15.00 semua klir dan saya terdaftar di pesawat S7 dengan tiket spesial sperti pada saat pertama kali terbang sebagai satu satunya penumpang komersil dibulan oktober tahun lalu.

Pesawat penuh dan kami terbang sesuai jadwal, sedang asyik merenung datang seorang pemuda minta tukaran tempat duduk. Saya ada di 20 D dan dia ada di 27 G di emergency Exit. Itu adalah kursi favorit saya. Jadi dalam petualangan ini saya selalu duduk di tempat yang longgar. Kaki bisa selonjor sepanjang penerbangan, rasanya lapang sekali perasaan ini setelah dibikin jengkel oleh North Winds itu. Saya ingat pesan inax saya bahwa “kalau engkau selalu mempermudah dan melapangkan jalan orang maka engkau selalu akan mendapat kelapangan dalam segala hal”. Ah, indah sekali nasihat inaxku itu. Benar sekali dimanapun saya berada tiba tiba semua jadi lapang, uang dan harta tidak akan menolong kita dalam keadaan sangat sulit karena birokrasi atau kesalahan komunikasi. Pada saat HP tidak dapat dihubungi saya hanya mengandalkan satu hal yaitu warisan inax saya berupa telepati. Saya menarik napas dalam dalam dan merelakan semuanya bergantug pada tali Allah dan saya mulai berbicara dengan teman saya di Rusia. Kalau dia sedang tidur dia harus bangun dan secepatnya menghubungi. Saya mengisi pulsa di kios yang ada didekat luar antrean dan saya dapat SMS dalam waktu kurang dari 15 menit dan langsung ditelpon. Saya tidak percaya pada kebetulan, saya tidak percaya kepada nasib dan saya tidak percaya pada takhyul, meskipun siap balik ke hotel untuk menanti serta merancang langkah selanjutnya tapi ketika ada alternatif lain, maka saya berjuang dulu untuk itu.

Kami makan malam jam 19.30 an sementara penumpang ributnya minta ampun. Orang Rusia sangat beda dengan bangsa kulit putih lain. Mereka cerewet dan suka sekali bolak balik mengambil barang dibagasi. Mereka juga bawa anak anak yang masih bayi dan balita. Anak anak itu lari kemana mana cari kawan bermain. Jam 02.30 kami makan lagi. Untung kami segera mendarat sejam setelah itu, kalau tidak pasti dikasi makan lagi dan lagi. Udara dingin minus 6 derajad celcius menerpa saat masuk bis pengangkut ke bangunan bandara. Pemeriksaan cepat berlangsung kecuali untuk saya sekitar 10 menit.
Petugas harus mencocokkan data dari komputer yang terhubung dengan komputer kedutaan, biro keamanan nasional pengganti KGB dan lain lain. Selanjutnya saya harus lewat pemeriksaan barang yang ketat tapi akhirnya semua lolos. Mungkin karena saya jampi atau memang tak ada yang terlarang. Saya membawa banyak bumbu dan bibit pohon dalam koper. Jam 4.30 kami meluncur ke apartemen dan pemandangan sepanjang jalan masih penuh dengan pohon meranggas namun tanah kering dengan lapisan salju tipis dimana mana. Kami tidur jam setengah enam karena saya diberi makan dahulu. Kota Irkutsk makin ramai oleh pendatang dari negara bekas Uni Sovyet dan juga dari China.

Saat ini saya sudah memegang tiket North Winds untuk ke Bangkok pp. Saya bilang pada kawan kawan saya bahwa kalau saya tidak bisa terbang lagi saya akan guna gunai direktris agen itu!. Teman teman tertawa dan menjamin dengan tertulis bahwa saya akan terbang tanpa masalah. Daun di salah satu pohon di tanah lapang sudah mulai mekar dan langsung ada bakal bunganya sementara pohon lain masih terus erat menggengam kelopak kecilnya dan rerumputan mualai berkecambah, saya memikirkan tentang anak anak di dasan gumi paer. Kapankah gerangan kuncup kuncup baru itu akan mekar dengan bebas dan melonjak lonjak menyambut matahari baru?. Mengapa setiap musim tak pernah memberinya kesempatan emas untuk mekar?. Pendidikan dan kejujuran para pemimpin adalah kunci utama untuk membuat bangsa ini jaya. Mari kita tuntun anak anak kita menjadi manusia yang waspada, taat sekaligus militan militant dalam menjaga kepribadiannya agar dapat mewarnai dunia kita yang semakin seragam oleh kemerosotan akhlak ini.
Wallahualambissawab

Demi
kian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *