Tradisi Berangkat Haji di Lombok

Mewaspadai Optimisme Ekonomi-Politik BIL
October 11, 2011
Dahulukan Biodigester, Pembangunan POG KS-IPEBI ditunda
October 15, 2011

Tradisi Berangkat Haji di Lombok

Pulau Lombok

Lombok Tengah [Sasak.Org]  Manwi (49th) sibuk melayani tamu yang datang bersama keluarganya, senin (11/10). Warga Desa Labulia Jonggat Lombok Tengah ini  terlihat menemani  50-an tamu yang memenuhi tempat yang sudah disediakan berupa beberapa lasah panjang (lasah: seperti ranjang tidur yang dibuat dari bambu memanjang ukuran 3x10m). Para tamu yang datang dalam rangka ziarah haji ke Bapak Manwi yang berprofesi sebagai Kusir Cidomo (Sejenis Andong). Kebetulan Bapak Manwi termasuk yang rumahnya digusur akibat pembangunan jalan bypas Bandara Internasional Lombok (BIL).

Manwi tidak sendiri mendapat berkah dari digusurnya rumah mereka, ada 9 orang yang tahun ini berkesempatan menunaikan haji karena nasib baik mereka. Diantaranya ada pasangan suami istri Kardi (47) dan Sairah (40), setiap malam sebelum berangkat haji, mereka harus menyiapkan konsumsi bagi ratusan tamu setiap malamnya. Beberapa orang dari calon haji ini mengeluhkan kemampuan ekonomi mereka, tetapi yang namanya tradisi, sampai harus berhutang. Mereka mengeluarkan biaya ziarah haji mulai dari 10 jutaan ke atas.

Menunaikan ibadah haji bagi seorang muslim tentu merupakan hal yang sangat membahagiakan, sekaligus membanggakan. Termasuk bagi masyarakat muslim di Pulau Lombok. Pulau yang dijuluki Pulau seribu masjid ini punya tradisi selakaran (tradisi membaca syair barzanji yang dilantunkan ramai-ramai dengan suara yang keras) sebelum keberangkatan, tidak tanggung tanggung, selakaran diadakan setiap malam, ada yang mengadakan selama 15 atau 20 hari menjelang keberangkatan. Setiap malam, bisa dihadiri 3-10 kelompok selakaran yang semuanya disuguhi kue atau kadang nasi.

Ziarah haji biasanya disebut masyarakat lombok, yaitu mengucapkan selamat kepada calon haji. Diadakan selama 15-20 hari sampai berangkat ke Mekkah.  Sebelum proses ini, diadakan dihari pertama pembukaan ziarah haji adalah begawe (semacam pesta) yang mengundang semua keluarga, baik yang dekat maupun jauh termasuk masyarakat sekitarnya.

Ibadah haji bagi masyarakat suku Sasak (nama suku asli Pulau Lombok)  merupakan sebuah ibadah sekaligus prestise di dalam kehidupan bermasyarakat. Setelah pulang menunaikan ibadah haji, orang lombok akan merubah namanya, misalnya yang sebelumnya bernama Ratnadi, setelah haji, bisa jadi berubah menjadi Haji Rahmatullah. Setelah di kampung akan dipanggil dengan sebutan Tuan di awal namanya, misalnya Kakak Tuan Rahmatullah.

Saat acara ziarah haji, biasanya beberapa kali di malam hari diadakan zikir saman, sebuah gerakan mirip pencak silat dengan berkelompok sambil mengucapkan shalawat atau zikir. Sebagian tim zikir saman khusus menjadi pembaca shalawat yang nantinya diiringi dengan ucapan ‘he ..he..’. Bisa dibayangkan, berapa kebutuhan biaya dari proses ini.

Disamping berbagai hal diatas, biasanya calon haji di Lombok tidak boleh beraktifitas selain ibadah, mengaji, atau menerima tamu merupakan kegiatan keseharian calon haji. Termasuk ketika nanti pulang haji, tidak langsung ke rumah tetapi ke Masjid atau Mushalla, tinggal disana selama seminggu.

Penulis : Zulkipli, SE, MM (Koordinator KS Regional Lombok)

2 Comments

  1. Opik says:

    Piran te yak lalo behaji ite ustad Zul?

  2. Gupranmuhsan says:

    Lueq gati sdekah calon pak haji, laguq angkan masih doang araq dgn hidup susah sampe ngendeng mkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *