Daftar Penyakit Hewan Menular
July 12, 2010
Proposal desa binaan komunitas sasak mendapat respon positif dari IPEBI
August 3, 2010

Tujuh Dosa Besar Kita

Yogyakarta [Sasak.Org] Entah sudah berapa SMS dan chat yang menanyakan, mengajak, mengundangku pulang untuk melihat, mengenang dan merasakan air, udara, matahari, laut, sungai dan danau tanah Selaparang. Makin banyak aku mebaca pesan pesan itu makin pilu hatiku karena aku membayangkan betapa negeriku yang dahulu permai itu telah menjadi sebongkah pulau bopeng dengan penghuni yang makin kehilangan rasa memiliki. Bagaimana harus aku mulai mengajak manusia yang tidak merasa memiliki atas tanah leluhurnya agar bersama sama mengobati luka, menambal kebocoran, menyegarkan keusangan, menghilangkan polusi, menghijaukan padang gersang, membersihkan sungai, menebar ikan dan membangun jati diri, sedang aku adalah salah satu dari pendosa terbesar dari semua anak bangsa Sasak.

Menurut perhitungan waras, sebuah tradisi akan lenyap bila tidak ada generasi penerus yang akan menerima tongkat peralihan dari generasi tua. Secara statistik telah didapat angka pertumbuhan penduduk di negara maju terlalu rendah dan tidak dapat menjamin akan bertahannya kebudayaan mereka. Di Tanah Selaparang pertumbuhan penduduk termasuk tertinggi di dunia namun hal itu tak sanggup menjaga keberlangsungan budaya Sasak hingga ke generasi berikutnya. Kini mereka mulai kaku berbahasa Sasak, makannya masih terasi tapi gayanya sudah all out berbau bule.

Ada tujuh dosa besar anak bangsa Sasak yang sengaja diabaikan secara berjamaah dan dengan segala senang hati mengadapatasi tradisi dan budaya asing yang ganjil bagi mereka.

1. Mengajarkan Ilmu Al Qur’an sudah dikerucutkan menjadi ajang mengumpulkan orang untuk kepentingan sesaat. Doa doa dijarakan untuk memuaskan hawa nafsu dan menutupi ketakutan diri. Dahulu antara anggota masyarakat dengan ustad/guru hanya berbeda dalam hal pengetahuan tingkat tinggi. Masalah akhlak dan ibadah sehari hari semua orang hampir sama levelnya. Kalau shalat berjamaah semua makmum berebut didepan sebab mereka siap mengganti imam sewaktu waktu. Pengetahuan dasar membaca Al Qur’an sama levelnya dengan sang imam. Sekarang semua orang berebut dibelakang atau kalau bisa diluar masjid. Selain alasan praktis agar cepat pulang, agar sandal tidak hilang juga alasan tidak bisa membaca Al Qur’an dan apalagi imamnya sok pamer dengan membaca surat Al Bakaroh!

2. Mengalirkan Sungai adalah mimpi buruk terbesar zaman ini. Pekasih sudah mati semua, selokan ditutup beton, kali disikat dari sisi kiri dan kanan saking rakusnya mencaplok tanah. Air tidak lagi mengalir lancar karena sampah menumpuk dan gorong gorong makin kecil. Selokan di dasan cepat cepat ditutup rapat dan dibangun tembok sehingga saat hujan turun tetangga tenggelam atau kebagian lumpur dan sampah penuh kotoran, bankai hewan sampai mayat bayi buangan.

3. Menggali sumur untuk kepentingan umum dan hewan kini telah diganti dengan penyedotan air bawah tanah sehingga keringlah sumur tetangga sebelah. Tak ada yang peduli apakah tetangga perotes sampai ditembak aparat atau gatal gatal karena tak bisa mandi dan bahkan kehausan. Masing menunjukkna kuasa uangnya dan dengan gagah membangun tembok tinggi agar tak terlihat sedang menagngkangi air sendirian.

4. Menanam pohon sudah lama dilupakan padahal itu adalah ajaran terpenting papux balox Sasak. Tiap anaknya lahir ditanamkan pohon sehingga ia akan hidup dengan lingkunngan asri penuh rezeki, sayur, buah dan udara segar. Makin kaya makin sombonglah mereka karena merasa sanggup membeli apa saja. Hutan telah jadi gundul dan hawa panas membuat orang sangat menderita.

5.Membangun masjid telah dilakukan sampai ribuan tetapi telah beralih fungsi sebagai tempat kongkow kongkow dan kepentingan kekuasaan. Pengajian dibuat jor joran dalam hal hebat hebatan kyai dan banyak banyakan makanan. Pengembangan kebudayaan yang dahulu sangat berperan telah digadaikan dengan acara TV dengan ustad ngepop. Masjid akhirnya menjadi basi dan akan menjadi sekedar tempat mampir numpang ke wc. Itupun kalau takmirnya tidak bakhil, bahkan wc saja ditimbun dan celakalah jamaah yang sedang kebelet buang hajat. Mesjid yang dahulu merupakan sekolah sampai perguruan tinggi itu telah runtuh nilainya pada level sebagai tempat konsolidasi kekuatan kelompok saja.

6. Mewariskan Mushaf al Qur’an sudah tidak lagi menjadi kebutuhan karena yang penting adalah anak anak generasi baru bisa menguasai teknologi mutakhir agar bisa kerja dengan penghasilan tertinggi. Kalau prestasi jelek bisa main sogok atau kkn. Tradisi mengaji yaitu mengkaji atau study pendalaman agama dengan Kitab Utama Al Qur’an dan kitab kitab besar warisan Ulama terdahulu tidak ada dalam benak anak bangsa ini apalagi koleksi perpustakaan.

7. Mendidik anak menjadi sholeh sudahpun diganti dengan pendidikan dan pelatihan penguasaan iptek untuk menyiapkan masuk pasar kerja atau bisnis belaka. Anak hebat, yang berilmu tinggi dan beramal sholeh hanya akan menjadi bahan olok olok karena penampilannya yang cendrung rendah hati (low profile). Kini anak hebat adalah anak yang pandai berjingkrak, main game, minum minum dan nongkrong didepan masjid pada saat azan berkumandang. Itulah kehebatan anak zaman ini.

Kerusakan alam dan hilangnya kemanusiaaan dari seorang manusia adalah bencana yang akan memusnahkan ummat manusia dan alam lingkungannya sekaligus. Kini pemimpin dipilih dengan pertimbangan amplop dan kekuasaan kelompok. Wajarlah mereka yang berkuasa jadi rajin mengumpulkan amplop dan mengutamakan kelompok sendiri.

Hujan jarang turun, bencana makin sering melanda adalah peringatan halus bagi yang lalai. Kelalian ini akan berkembang dan menular. Kalau orang sudah mulai mengeluh dan tak ada yang segera bereaksi menjawab dengan tindakan yang sesuai maka bencana akan muncul dari fikiran yang makin sempit dari orang orang yang semakin membatu karang kefanatikannya karena lelah menahan atas nama toleransi.

Mari kita kembali kepada tradisi kita agar bencana ini berbalik menajadi pahala dan kita akan segera hidup damai dan suka cita dalam suasana terus saling asah asuh dan menyiapkan esatafet ke generasi demi generasi. Amin.
Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

1 Comment

  1. Gupran says:

    Huraian 7 dosa ini memang dapat dirasakan di kalangan masyarakat kita,jika kita sudah memahami 7 dosa ini tidak adakah azam pada diri dan mereka yg pembaca untuk mencipta 7 lagi pahala yang bisa kita persembahkao untuk gumi selaparang… Tyang Ikut filu mengenang dosa sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *