Ditulis oleh M. Roil Bilad Selasa, 23 Februari 2010 19:13
[Sasak.Org] Provinsi NTB terutama pulau lombok merupakan daerah penghasil tembakau virginia terbesar di Indonesia. Jumlah produksi rata-rata dan luas areal penanaman mencapai 31.507 Ton/19.873 Ha (2006), 33.046 Ton/17.124 Ha (2007) dan 46.824 Ton/22.824 Ha (2008). Pada tahun 2008 berhasil memenuhi 80% kebutuhan tembakau virginia nasional dan diperkirakan mencapai lebih dari 50 ribu ton pada tahun 2009 dan memenuhi 90% kebutuhan nasional. Kebutuhan minyak tanah untuk pengomprongan tembakau di lombok saja per tahun (2008) mencapai 40.000 kilo liter. Dengan demikian jumlah subsidi BBMT mencapai lebih dari 250 milyar rupiah. Pemerintah menilai subsidi BBMT hanya menguntungkan perusahaan-perusahaan pemasok tembakau untuk pabrik rokok, sehingga mulai tahun 2009 subsidi BBMT untuk pengomprongan tembakau sudah dicanangkan untuk dicabut sepenuhnya dan akan dikonversi menjadi bahan bakar batubara.

Akibat terlambatnya konversi bahan bakar untuk pengomprongan tembakau pada tahun 2009, pemerintah menunda pencabutan subsidi BBMT. Rencananya pada tahun 2010 ini, sudah tidak akan ada lagi subsidi yang diberikan. Dengan demikian, mau tidak mau atas dasar alasan ke-ekonomian petani akan beralih mengunakan bahan bakar lainnya seperti batubara atau kayu.
Jika ditinjau dari harga persatuan energi, maka hanya dua alternatif pengganti yang secara ekonomis setara atau bahkan lebih murah dari penggunaan BBMT bersubsidi, yaitu kayu bakar (kalor bakar, 15MJ/Kg, harga Rp. 550 per kg, atau Rp. 36/MJ) dan batu bara (Rp. 1,250/kg, kalor bakar 27MJ/kg, atau Rp. 46/MJ). Harga ini sebenarnya lebih murah dari penggunaan BBMT subsidi (Rp. 3,562/kg, kalor bakar 56 MJ/kg, atau Rp. 64/MJ). Karena alasan diatas, pemerintah provinsi NTB sudah merekomendasikan dan sedang dalam tahap pelaksanaan program konversi bahan bakar ke batubara. Penggunaan kayu bakar dilarang karena akan mengancam pelestarian lingkungan dan memberi dampak kerusakan lingkungan yang fatal. Berdasarkan perkiraan, jika seluruh bahan bakar untuk pengomprongan tembakau menggunakan kayu, diperlukan sebesar ± 480 ribu m3 kayu bakar per tahun, bila potensi hutan kayu bakar 40 m3/ha maka dibutuhkan 12.000 hektar hutan kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan tersebut per tahun. Namun demikian, sepertinya pemerintah provinsi nusa tenggara barat (NTB) hanya mencari solusi pintas dengan hanya merekomendasikan batubara. Pertimbangan aspek lingkungan mengenai dampak pembakaran batubara tidak diindahkan.
Pembakaran batubara, seperti bahan bakar fosil lainnya, terjadi akibat reaksi eksotermik antara komponen batubara dan oksigen yang terdapat di udara. Batubara mayoritas tersusun dari karbon (C), dan komponen kecil lainnya seperti belerang (S), oksigen (O) dan hidrogen (H). Reaksi antara batubara dan udara akan menghasilkan karbon dioksida (merupakan komponen utama gas rumah kaca) dan air pada kondisi pembakaran sempurna, bersama dengan belerang, terutama belerang dioksida SO2 dan berbagai macam nitrogen oksida lainnya (NOx). Karena hidrogen dan nitrogen merupakan komponen penyusun udara, hidrida dan nitrida dari karbon dan belerang juga diproduksi selama pembakaran batubara. Ini juga termasuk hidrogen sianida (HCN), belerang nitrat (SNO3) and berbagai senyawa beracun lainnya.
Lebih jauh lagi, hujan asam dapat terjadi ketika belerang dioksida yang diproduksi dari pembakaran batubara, bereaksi dengan oksigen membentuk belerang trioksida (SO3). Senyawa ini kemudian bereaksi dengan molekul air (H2O) di atmosfer menjadi asam sulfat (H2SO4). Asam sulfat dikembalikan lagi ke tanah dalam bentuk hujan asam. Bentuk lain dari hujan asam juga terjadi akibat emisi karbon dioksida dari pembakaran batubara adalah asam karbonat (H2CO3). Ketika di atmosfer, molekul karbon dioksida bereaksi dengan molekul air untuk menghasilkan asam karbonat. Senyawa ini jatuh kembali ke tanah sebagai senyawa yang korosif.
Salah satu permasalahan lain dari pembakaran batubara adalah sulitnya dicapai pembakaran sempurna. Pada pembakaran sempurna dapat diproduksi gas karbon monoksida (CO) yang sangat membahayakan kesehatan. Senyawa ini memiliki afinitas penyerapan dipara-paru lebih tinggi dibandingkan oksigen (O2) sehingga mengganggu pernafasan. Keracunan karbon monoksida diindikasikan oleh sakit kepala, vertigo, flu, dan pada tingkat yang lebih tinggi dapat meracuni sistem saraf pusat dan hati, bahkan menyebabkan kematian. Karbon monoksida juga sangat membahayakan janin jika dihirup oleh ibu hamil. Pada tingkat rendah sampai kronis bisa menyebabkan depresi, pusing dan kehilangan ingatan. Karbon monoksida mengakibatkan dampak lebih lanjut ketika berikatan dengan hemoglobin dalam darah dalam bentuk karbohemoglobin (HbCO). Senyawa ini mencegah pengikatan oksigen ke dalam darah, sehingga mengurangi kapasitas transport oksigen darah, yang selanjutnya menyebabkan hipoksia (kekurangan oksigen) yang mengganggu proses pencernaan dan penyerapan makanan di dalam tubuh. Karbohemoglobin bisa dihilangkan dari hemoglobin, namun memerlukan proses yang p sulit dan lama karena komplek-HbCO cukup stabil.
Batubara dan produk buangannya, berupa abu ringan, abu berat, dan kerak sisa pembakaran, mengandung berbagai logam berat; seperti arsenik, timbal, merkuri, nikel, vanadium, berilium, kadmium, barium, cromium, tembaga, molibdenum, seng, selenium, dan radium, yang sangat berbahaya jika dibuang di lingkungan. Batubara juga mengandung uranium dalam konsentrasi rendah, torium, dan isotop radioaktif yang terbentuk secara alami yang jika dibuang akan mengakibatkan kontaminasi radioaktif. Meskipun senyawa-senyawa ini terkandung dalam konsentrasi rendah, namun akan memberi dampak signifikan jika dibung ke lingkungan dalam jumlah yang besar. Emisi merkuri ke lingkungan terkonsentrasi karena terus menerus berpindah melalui rantai makann dan dikonversi menjadi metilmerkuri, yang merupakan senyawa berbahaya dan membahayakan manusia. Terutama ketika mengkonsumsi ikan dari air yang terkontaminasi merkuri.
Jika diperhitungkan secara kasar maka NTB khususnya pulau lombok mulai tahun 2010 akan membakar sekitar 375 ribu ton batubara pertahun. Pembangkit listrik berbahan bakar batubara 3 x 25 MW saja, diperkirkan akan mengkonsumsi 175 ribu ton batubara pertahun ditambah lagi dengan pembakaran batubara untuk pengomprongan tembakau yang diperkirakan mencapai 200 ribu ton per tahun. Tidak terbayangkan, bagaimana dampak lingkungan yang akan diakibatkan pada tahun-tahun mendatang.
Pada musim pengomprongan tembakau tahun 2009 yang lalu, sebagian petani tembakau sudah menggunakan batubara sebagai bahan bakar. Namun demikian akibat dampak lingkungan yang mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar, tidak sedikit yang akhirnya beralih dari batubara ke kayu bakar dengan merusak tungku batubara mereka. Berbagai macam penyakit pernafasan diderita masyarakat sekitar lingkunagn pengomprongan, padahal ini baru hanya sebagian kecil saja. Maka tidak bisa membayangkan dampak lingkunagn dan dampak sosialnya dimasa yang akan datang ketika batubara sudah digunakan secara menyeluruh oleh petani tembakau dan pembangkit listrik 3 x 25 MW sudah mulai beroperasi di tahun 2010 ini.
Artikel ini juga bisa diperoleh di: www.roilbilad.wordpress.com

Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org
Tautan ke Situs Lain
Pengunjung
Login Form
Kosakata Hari Ini
Empit
Multimedia Sasak
Shout Box
Komentar Terbaru
Tutorial Pembuatan Biogas Skal...
Pakai gas washer dengan menggunakan NaOH untuk mengikat karbon diaoksida yang terbentuk, sehingga ti...
By HendriW
Calon Bupati Lombok Tengah (2)...
gimana nih tim sukses salam, katanya 1 putran nyanya 2 ptran. kayaknya tim sukses salam udah kellaha...
By jagoan
NTB, Jembatan Ekonomi Indonesi...
Mudaha-mudahan selapuk ne jari bagus, tp hal mendasar yang harus kita benahi bersama untuk menyikapi...
By Eb
Sabotase Listrik saat Warga Ta...
seharusnya si wisatawan tu ngerti kalo saat ini bulan ramadhan, kalo memeng seperti itu perlakuannya...
By Narain Topandas
Kekeringan, Warga Lombok Krisi...
Semethon-semethon leq Lentek, daweg, rau'n bae gawah-gawah lauq siku adin sere sempurne gering. Upay...
By Arya
Sabotase Listrik saat Warga Ta...
umat Islam yang lain kok gak ada respon, orang macam ini nih yang seharusnya diganyang.
By Nietha
Maulid Adat di Desa Sesait, Ke...
Maaf mas dan mba yang berasal dari desa sesait, minta pertolongan yg ikhlas dari anda semua. saya se...
By arie mahendra
BUDIDAYA TEMBAKAU VIRGINIA DI ...
replied for #MRB Saya sedang menjalani project mengenai tembakau d kota Lombok, kalau boleh saya min...
By Ryan AP
Kekeringan, Warga Lombok Krisi...
sukuri yg sudah diberi, tidak mustahil pulau lombok akan kering bila tidak kita jaga
By hari
Pemkab Lotim Ajukan Harga Dasa...
Kami mohon kepada Pemerintah jangan siksa kami (petani tembakau) kami capek begini terus. Minyak ind...
By Ahmad Afandi


Comments
apa lagi solah...cukup berbahaya...
RSS feed for comments to this post.